Tulungagung #1: Wisata Rasa Nostalgia (Jurang Senggani)

by - January 03, 2019


Tulungagung khususnya Kecamatan Sendang, merupakan suatu tempat yang membekas di hatiku. Di sana adalah tempat di mana aku belajar sesuatu yang baru, bukan hanya teori namun juga terjun langsung praktek di tengah masyarakat. Tempat untuk meningkatkan kemampuan kerja sama tim, bukan hanya skill individual. Tempatku bermain sambil belajar dengan teman-temanku di kegiatan Kuliah Kerja Nyata.

Aku lulus tahun 2017 begitu juga dengan teman-teman se-angkatan-ku. Sampai akhir 2018 ini kita susah bertemu karena kesibukan masing-masing. Bulan Desember 2018 lalu aku pulang kampung ke Kediri dan ajaibnya salah satu teman baikku waktu kuliah, Aryna, mengajakku jalan bareng. Gak cuman berdua, ternyata ada 4 orang teman lagi yang ngikut: Adel, Anita, Atika, dan Febri. Semuanya teman dekatku sekelas di kampus.

Foto full team. Dari yang paling kiri: Atika, Febri, Aku, Adel, Anita, Aryna
Tujuan utama kami adalah ke Jurang Senggani dan beli susu murni. Btw, olahan susu merupakan salah satu komoditas utama Kecamatan Sendang. Jadi kalau main ke sana gak lengkap kalau gak beli susu. Hehe. Setahu kami, tempat penjualan susu murni hanya melayani saat pagi dan sore hari. Sementara kami tidak ada rencana main-main ke Sendang sampai sore, mengingat ini musim penghujan dan mayoritas dari kami berangkat dari Kediri (jarak pusat Kota Kediri ke jurang Senggani kira-kira 44 km), akhirnya kami memutuskan untuk berangkat pagi-pagi buta dan kumpul di rumah Aryna jam 5 pagi.

Pukul 05.15 aku dan Febri sampai di rumah Aryna. Telat memang, tapi 3 orang lainnya lebih molor lagi. Kita bisa kumpul full team sekitar pukul 06.00 πŸ˜‚. Setelah itu kami langsung meluncur menuju ke tempat kami beli susu murni. Di sana mereka hanya menjual susu murni saja, wadah susunya kita yang bawa sendiri. Sementara yang tidak punya wadah susu, bisa beli di toko-toko sekitar. Jirigen ukuran 2 liter dijual seharga Rp 6.000 dan 5 liter seharga Rp 10.000. Setelah membeli jirigen, ternyataaaaaa susunya masih belum siap dijual!! Kata bapak pegawai tempat itu, susu dari peternak baru sampai, dan masih hangat. Susunya bisa digunakan untuk keperluan langsung dikonsumsi. Kalau untuk konsumsi jangka lama (1-2 hari) harus tunggu susunya dingin dulu. Jadi si bapak merekomendasikan untuk balik lagi siang pukul 11.00-13.00 atau sore. Okelah kalau begitu, kami pun lanjut perjalanan ke Jurang Senggani sementara jirigen-jirigen kami titipkan di tempat penjualan susu murni.

Jalan menuju Jurang Senggani mudah dijangkau dengan menggunakan motor. Akan sulit jika menggunakan mobil karena ketika sudah dekat tujuan, jalannya bercabang dan sempit. Walaupun salah satu cabang jalan diperuntukkan kendaraan roda empat, tapi hanya cukup dilewati satu mobil saja. Jadi lebih baik menggunakan motor saja ya, teman😘. 

Kami sampai di sana masih terbilang pagi sekali. Sekitar pukul 06.45. Masih belum ada tukang parkir yang mangkal, juga tidak terlihat batang hidung orang yang menjual tiket masuk wisata. Dengan PD nya kami memparkir motor kami dan masuk ke kawasan Jurang Senggani.

Jurang Senggani merupakan wisata alam yang asri. Dipenuhi dengan pohon Pinus, dan dihiasi item-item kekinian supaya lebih Instagramable. Berada di sana terasa seperti berada di hutan fantasi. Banyak sekali spot-spot foto yang bisa dinikmati. Tak heran apabila orang yang berwisata di sini sudah berpakaian necis, siap berburu foto untuk melengkapi kolase fotonya di media sosial.

Tak hanya untuk foto-foto semata. Di sini juga ada fasilitas area outbound sehingga anak-anak bisa puas bermain. Jurang Senggani juga merupakan sebuah bumi perkemahan, jadi jangan heran jika menemukan tenda-tenda. Karena merupakan Buper ini, jadi jurang Senggani buka 24 jam.

Apabila kelaparan di tempat ini, jangan khawatir ya, gengs. Banyak sekali warung yang berjajaran berjualan makanan. Tinggal pilih saja pengen makan apa. Harga makanannya juga sangat terjangkau. Kami masing-masing membeli soto ayam seharga Rp 7.000 dan teh hangat seharga Rp 2.000. Porsi sotonya memuaskan sekali, terbilang banyak untuk harga semurah itu. Dengan Rp 9.000 kami bisa membuat perut kenyang.
Menu dari salah satu warung di Jurang Senggani


Dokumentasi:
Baru sampai, masih bingung mau foto di manaπŸ˜‚

Tempat asyik buat reunian, bahas masa lalu.

Berasa foto di hutan.

Tangga dari tanah yang bernama "Jalan Jomblo" ini sangat licin. Mohon untuk hati-hati kalau lewat sini ya.

Hayuk, anak-anak peluk Ibu

Banyak plakat di pohon yang isinya quote lucu

Bumi Perkemahan Jurang Senggani

Penampakan di pagi hari yang sepi

Terdapat beberapa ayunan untuk bermain maupun objek foto

Area outbound

Sudah puas jalan-jalan, foto-foto, dan perut juga sudah kenyang, tapi jam masih menunjukkan pukul 09.30. Mau balik beli susu juga susunya masih belum siap, baru siap pukul 11.00 nanti. Akhirnya kami memutuskan jalan-jalan ke tempat wisata selanjutnya.

Bersambung

Catatan:
  • Pemandangan indah sudah bisa dinikmati ketika berada di perjalanan menuju Jurang Senggani. Kalian bisa menikmati pemandangan sawah dan juga hutan Pinus di kanan kiri jalan.
  • Lebih baik menikmati Jurang Senggani ketika tidak sedang hujan, karena tanahnya akan licin terkena air hujan.
  • Untuk biaya parkir dan tiket masuk, dengan berat hati saya sampaikan ketidaktahuan saya. Karena kami datang terlalu pagi, kami tidak ditarik biaya parkir dan tiket masuk. Maafkan kami, Pengelola Tempat Wisata, bukannya kami berniat menikmati wisata secara gratis, tapi memang berniat datang pagi-pagi sekali karena mendapat info bahwa Jurang Senggani akan lebih cantik bila masih terdapat kabut di sana.😭
  • Teman-teman yang bermain ke Jurang Senggani dimohon untuk tidak membuang sampah sembarangan, ya. Tempat ini adalah tempat yang indah, jangan sampai dikotori oleh sampah-sampah. Tidak usah khawatir bingung kemana kalian harus buang sampah, karena tersedia banyak  tempat sampah tersebar di sana.

You May Also Like

8 komentar

  1. Jadi inget sama temen-temen deket saya jaman kuliah dulu :")))) mirip banget sama gengnya mbak Roem... emang dasar cewek2 yaaa, janji jam berapa berangkatnya jam berapa heheh

    BTW foto-fotonya bagus mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, mbak. Hehe.
      Walaupun molor-molor jam nya, tapi kalau kumpul-kumpul bareng temen lama antusias banget, mbak. Bisa nostalgia sambil menjaga tali silaturahmi ;-)

      Delete
  2. Replies
    1. Iya, mbak. Boleh lah buat tempat mampir foto-foto kalau main ke Tulungagung ;-)

      Delete
  3. Saya jadi merasa gimana gitu baca dan liat fotonya.
    Saya seumur-umuran nggak pernah punya teman cewek banyak dan main dengan banyak cewek gini.

    Dari SD, SMP hingga STM, palingan berteman dengan 1-2 teman cewek.
    Padahal asyik ya kalau hang out bareng temen-temen cewek aja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini karena satu jurusan waktu kuliah laki-lakinya langka, Mbak Rey. Jadi temennya perempuan semua. Hehehe.πŸ˜‚

      Delete
  4. Wah, enak juga kalo ngumpul bareng temen temen ya mbak, jadi reunian.

    Kirain aku namanya tempat wisata jurang senggani itu kalo mau masuk harus ke bawah masuk jurang..🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelum sampe sana aku pikir juga begitu, mas. Kalau masuk jurang beneran ngeri juga. Bisa hilang. Hilang nyawanya.πŸ˜‚

      Delete

Komentar akan dimoderasi. Jadi mohon maaf sekali apabila komentar yang tidak sopan, mengandung kata kasar, menyinggung SARA, spam, dan yang berisi link hidup terpaksa tidak saya terbitkan. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.πŸ˜„