Kisah Kasih Sayang Allah Kepadaku – Penantian, Pertemuan, & Kehilangan

by - August 18, 2019



Assalamu’alaikum

Hamil adalah hal yang diidam-idamkan setiap pasangan manten baru. Masih teringat di dalam benakku pada saat-saat itu setiap hari aku memasakkan sayur tauge untuk suamiku (terima kasih, Sayang, kamu gak pernah protes akan hal itu) serta rajin minum folic acid dan susu prenagen essensis supaya bisa segera hamil. Dan Alhamdulillah, setelah 5 bulan menikah tepatnya saat ulang tahun suamiku aku mendapati dua garis merah pada test pack yang kugunakan. Tentunya ini kado terindah dari Allah yang didapatkan suamiku, yaitu istrinya hamil.

Aku dan suamiku beserta seluruh keluarga kami menyayangi janin yang ada di perutku. Maklum, janin ini adalah bakal cucu pertama bagi orang tua kami mengingat aku dan suami merupakan anak pertama mereka. Kami sangat menjaga buah hati kami. Makan makanan sehat, menghindari makanan instan dan junk food, rutin periksa ke bidan setiap tiga minggu sekali, rajin minum vitamin serta kalsium dan rutin periksa ke obgyn setiap dua bulan sekali (dimulai dari usia kehamilan 12 minggu).

Semua terasa sangat indah. Apalagi setelah mengetahui bahwa janin yang aku kandung berjenis kelamin laki-laki sesuai keinginan suami dan juga ibuku. Tapi masa-masa indah itu berakhir saat usia kehamilan 30 minggu. Obgyn bilang janin dalam kandunganku kecil apabila dibandingkan dengan janin lain di usia kandungan yang sama. Hanya 900 gram, seharusnya lebih dari itu. Beliau menambahkan bahwa kemungkinan besar anakku tidak bisa menunggu lahir sampai usia kehamilan 9 bulan. Dan sebaiknya aku harus disuntik pematangan paru, supaya paru-paru anakku sudah matang saat kapanpun dia dilahirkan. Namun ketika itu aku masih bingung, aku takut jika disuntik pematangan paru berarti akan memicu kontraksi yang membuat anakku harus dilahirkan paksa (saat itu bodohnya aku tidak mengungkapkan ketakutanku pada dokterku). Karena aku tidak merasakan keluhan apapun dengan kehamilanku (tidak ada flek, tidak ada bengkak-bengkak, tidak ada rembes air ketuban, dan juga keluhan-keluhan lain), aku meminta untuk mempertimbangkan analisisnya lagi. Lalu obgyn-ku memintaku kembali lagi ke tempat prakteknya dalam dua minggu ke depan untuk observasi. Beliau juga menyarankanku untuk banyak-banyak minum air putih dan makan es krim.

Aku baru kembali ke tempat praktik obgyn-ku saat usia kandunganku 34 minggu, karena menunggu saat suami bisa mengantarkanku ke sana. Suamiku bekerja di Sidoarjo padahal selama hamil aku tinggal di rumah orang tuaku di Kediri. Aku menunggu saat suamiku bisa mengantarkanku karena memang aku belum menceritakan masalah kandunganku ke orang tuaku. Aku takut mereka menjadi khawatir jika mereka mengetahuinya. Aku takut menghancurkan kebahagiaan mereka akan kesempatannya mendapatkan cucu pertama. Aku tidak bisa ke obgyn dengan orang tuaku tapi aku juga tidak kuat menerima kenyataan pahit jika berangkat sendiri.

Foto USG 5D usia kehamilan 34 minggu (doc pribadi)

Obgyn bilang tidak ada perubahan berarti dengan kondisi janinku. Berat badannya hanya bertambah sedikit 4 minggu ini, 1.015 gram totalnya padahal aku sudah menjalankan semua saran obgyn. Ketika aku tanya kenapa semua ini bisa terjadi, ’ada penyumbatan pada plasenta sehingga nutrisi dari ibu tidak bisa sampai ke janin’ jawabnya. Beliau kembali menyarankanku untuk melakukan pematangan paru secepatnya, tapi aku kembali meminta waktu kepada dokter untuk mempertimbangkannya dengan keluargaku, mengingat aku belum menceritakan kepada mereka. Beliau memintaku untuk segera memberi kabar kapan aku siap melakukan pematangan paru.

Sesampainya di rumah aku dan suamiku langsung menceritakan semuanya ke orang tua kami. Aku benar-benar tidak tega melihat ketakutan dan kekhawatiran di wajah mereka. Sorenya, aku mendatangi bidanku untuk mendapatkan masukan atas vonis dokter. Bidanku juga kaget atas vonis dokter, karena kondisiku secara fisik benar-benar baik-baik saja.  Beliau sempat akan memintaku periksa ke obgyn lain untuk mencari second opinion, tapi rencananya batal setelah beliau langsung menghubungi obgyn ku. Bidan berkata kalau aku harus cepat-cepat melakukan pematangan paru. Semua ini terjadi karena ada masalah pada plasenta sehingga nutrisi dariku tidak dapat disalurkan ke janin (sesuai kata obgyn). Apabila hal ini terus dibiarkan, maka kemungkinan terburuknya adalah janin lemas kehabisan energi dan dapat meninggal dalam kandungan.  Maka sangat dianjurkan janin secepatnya dilahirkan. Apabila dilahirkan, kemungkinan keselamatan untukku dan juga anakku adalah 50:50. Dan apabila harus memilih, tenaga medis akan lebih mengutamakan keselamatanku daripada anakku. Sampai rumah, tak habis-habisnya aku dan suamiku menangis di kamar. Kami takut kehilangan anak kami.

Rasanya duniaku hancur. Aku tidak bisa membayangkan harus berpisah dengan anakku secepat itu. Pagi itu (sehari setelah kunjungan bidan) aku menemui obgyn untuk melakukan pematangan paru. Di saat antri menunggu giliran periksa, aku masih saja tidak dapat menahan air mata ini mengalir. ‘Ya Allah, selamatkan anakku.’ Giliranku periksa pun tiba. Aku menanyakan apakah suntik pematangan paru akan membahayakan janinku, dan beliau berkata pematangan paru sangat baik untuk janinku. Itu adalah langkah penyelamatan pertama untuk janinku. Setelah itu obgyn langsung melakukan suntik pematangan paru padaku. Obgyn mengatakan sebenarnya pilihan terbaik saat ini adalah mengeluarkan janin dari perutku secepatnya. Namun masalahnya untuk persalinan yang kemungkinan besar caesar membutuhkan biaya yang cukup besar ditambah lagi dengan biaya NICU yang jauh lebih besar lagi, padahal aku masih belum memiliki asuransi yang meng-cover semua biaya tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut, obgyn memberi  anjuran padaku untuk periksa dengannya setiap seminggu sekali dan periksa ke bidan setiap dua hari sekali untuk mengecek detak jantung janin sampai asuransiku jadi.

Sehari setelah kunjunganku ke obgyn, suamiku segera mengurus asuransi yang nantinya aku gunakan untuk persalinanku. Perkiraan kami asuransi tersebut dapat digunakan pada dua minggu setelah mendaftar. Dan Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan kepada kami. Ternyata karena suamiku sudah terdaftar pada asuransi tersebut melalui kantornya, maka akunku bisa langsung ditambahkan menjadi tanggungan asuransi yang pembayarannya melalui kantor suamiku, tidak perlu autodebet rekening tabungan. Jadi pada saat hari itu pun kartu asuransiku bisa dicetak dan dapat digunakan pada hari itu juga. Fyi, kami menggunakan BPJS Kesehatan.

Dua hari selanjutnya, aku mengalami sakit perut yang sangat parah. Aku menghubungi bidanku dan juga obgyn melalui aplikasi WA. Bidan memberiku arahan apa yang harus kulakukan melalui aplikasi WA tersebut. Dan Alhamdulillah, 10 menit kemudian rasa sakitnya pun reda. Sementara obgyn baru membalas pesanku di sore hari. Beliau menyarankanku untuk segera rawat inap di rumah sakit.

Chat terakhirku dengan obgyn sebelum opname (doc pribadi)

Tiga hari aku harus menjalani observasi di rumah sakit, tepatnya di ruang bersalin. Ruang bersalin merupakan tempat untuk menjalankan persalinan normal di rumah sakit ini. Ruangan ini merupakan ruangan yang cukup besar yang terdiri dari kurang lebih belasan (atau mungkin 20) ranjang dan setiap ranjangnya hanya dipisahkan dengan tirai penyekat. Karena hanya dipisahkan dengan kain, walaupun aku tidak bisa melihat pasien di sekitarku, tapi aku bisa mendengarkan setiap rintihan, erangan, dan jeritan setiap pasien yang melahirkan di sana. Setiap kali aku mendengar suara-suara tersebut, aku berdoa semoga mereka dan bayi yang dilahirkannya diberikan keselamatan oleh Allah. Setiap kali ada suara bayi menangis, aku tersenyum dan mengucapkan hamdalah. Ikut senang bayi mereka lahir dengan selamat. Lalu menangis karena khawatir nanti apa bayiku bisa menangis seperti halnya bayi mereka.

Terima kasih, suamiku, sudah menguatkanku di masa-masa sulit itu (doc pribadi)

Di hari terakhir observasi, obgyn menyimpulkan bahwa tidak ada peningkatan berat badan janin dan air ketuban semakin berkurang. Janin harus segera dikeluarkan demi keselamatanku dan juga janinku. Beliau memberikan aku dan suamiku pilihan untuk masalah persalinannya. Induksi atau caesar.

  • Jika memilih induksi, obgyn akan merangsang kontraksi sehingga janin bisa dilahirkan secara normal. Kelemahannya, karena janinku kecil, maka kemungkinan besar dia tidak kuat menahan stress akan kontraksi sehingga kemungkinan terburuknya bayi  akan lahir dalam kondisi meninggal. Kelebihannya 6 bulan setelah persalinan melalui induksi aku sudah diperkenankan (aman untuk) hamil lagi.
  • Jika memilih caesar, aku akan mendapatkan suntikan anastesi di daerah tulang belakang. Setelah itu aku akan merasakan mati rasa di daerah perut sampai ke ujung kaki, sehingga aku tidak merasakan sakit saat proses persalinan. Dan karena janin langsung diambil melalui pembedahan di area perut, maka janin tidak merasakan stress akan kontraksi sehingga kemungkinan bayi lahir selamat lebih besar. Kelemahannya, aku akan merasakan sakit setelah persalinan lebih lama dari pada jika aku melahirkan normal. Pemulihan luka luar dan juga rahim juga lebih lama, sehingga jarak aman untuk hamil lagi adalah 2 tahun setelah dilakukannya bedah caesar.
  • Apapun pilihan yang dipilih, baik induksi maupun bedah caesar kemungkinan bertahan hidup anakku sangatlah kecil.

Setelah mendengarkan penjelasan dari obgyn, aku dan suamiku memilih untuk persalinan melalui bedah caesar. Pertimbangan kami adalah rasa cinta kami kepada anak kami. Mana tega kami membiarkan anak kami merasakan rasa sakit yang amat sangat yang kemungkinan besar menghilangkan nyawanya. Biarlah aku yang merasakan sakit sedikit lama, tak apa, asalkan anakku selamat. Dan obgyn memberikan jadwal persalinanku keesokan paginya. Selama menunggu saat dianjurkan puasa, aku tetap makan tiga kali dan menghabiskan tiga cup es krim 450 ml dan satu cup es krim 150 ml, berharap berat badan janinku bisa bertambah.

Hari itu pun tiba. Aku berganti baju operasi, bulu kemaluanku pun sudah dicukur, dan perawat sudah memasangkanku kateter. Aku sudah siap untuk menjalani persalinan ini. Perawat memberiku kesempatan untuk pamit dengan suamiku. Aku dan suamiku hanya saling pandang, tanpa berkata apa pun. Lalu aku mencium tangannya dan dia mencium keningku. Aku mengucapkan satu kata setelah itu, ‘maaf’. Lalu aku langsung didorong menggunakan kursi roda memasuki ruang operasi. Aku mengucapkan kalimat tahlil dalam hati. ‘Ya Allah, jika kau mengambilku hari ini aku sudah siap. Apapun kehendakmu atas aku ataupun atas anakku, aku sudah siap menerimanya, Ya Allah.’ Prosedur operasi pun di mulai. Aku mendapatkan bius lokal sehingga aku masih dalam kondisi sadar saat operasi dilakukan. Tak lama kemudian aku mendengarkan suara tangisan yang sangat kencang. Lebih kencang dari suara bayi-bayi yang lahir di ruang bersalin saat masa-masa observasiku. ‘Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih banyak atas kasih dan sayang-Mu, Kau berikan kesempatan padaku mendengarkan suara anakku.’

“Bayinya sudah lahir ya, Bu, laki-laki. Kecil, tapi tangisannya kencang sekali,” kata obgynku. Lalu bayiku langsung dilarikan ke ruang bayi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Operasi berlangsung dengan lancar dan sangat cepat, mungkin tidak sampai setengah jam. Aku pun sudah di kembalikan ke ruang rawat setelah 7 jam berada di ruang recovery.  Ibuku menceritakan bahwa anakku dilahirkan dengan selamat, walaupun harus dirawat di NICU selama jangka waktu yang tidak diketahui. Dia menangis sangat kencang, tapi ketika bapaknya mengadzankannya di telinga kanannya, dia berhenti menangis dan menatap wajah bapaknya itu lekat-lekat (aku heran, apa dia sudah bisa melihat saat itu). Dia juga aktif menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah sambil membuka tangan dan juga menggenggam. Kakinya pun juga aktif bergerak. Sudah ada garis tangan dan garis pada telapak kaki yang menunjukkan bahwa sebenarnya dia sudah cukup usia saat lahir (dia lahir di usia kandunganku 35 minggu). Bidan perawat bilang jika semua organnya normal, bayiku hanya ‘kecil’ saja. Suatu keajaiban bayiku bisa bertahan di dalam kandungan padahal selama kira-kira sebulan lebih dia harus ‘berpuasa’ di dalam sana. Air mataku tak bisa dibendung lagi ketika mendengarkan penjelasan ibuku. Aku dan Suamiku sepakat memberikan dia nama “MUHAMMAD SALAM”. Nama yang indah menurut kami.

Keterangan lahir Salam (doc pribadi)

Aku tidak diperbolehkan masuk dalam ruangan bayi (tempat anakku berada), menyusuinya pun tak boleh. Alasannya karena bayiku terlalu kecil, sehingga membutuhkan perawatan intensif melebihi bayi yang ada di ruangan yang sama. Jadi aku hanya bisa melihat bayiku melalui kaca di luar ruangan itu di saat-saat tertentu saja. Aku bisa melihat bayiku yang memang benar-benar aktif, terlalu banyak bergerak kalau dibandingkan dengan bayi-bayi di ruangan itu.

Hari terakhir aku opname pun tiba. Aku dan suamiku sudah selesai berkemas. Suamiku mengajakku ke ruang bayi. Dia memohon pada perawat untuk memperbolehkanku masuk ke ruang bayi untuk melihat bayiku dari dekat sebelum aku pulang ke rumah. Dan Alhamdulillah aku diperbolehkan masuk ke sana. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat anakku dari dekat, walaupun masih tak diperbolehkan untuk menyentuhnya. Dia masih saja menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan semangat. Ketika  aku ajak bicara, dia seolah-olah menatapku dengan lekat. Aku masih heran, sebenarnya apakah dia sudah bisa melihat saat itu. ‘Cepat sehat ya, Le. Cepat gendut ya, sayang. Biar cepat-cepat kamu bisa pulang dan dirawat ibu di rumah. Ya Allah sembuhkanlah anakku.’ Aku hanya diperkenankan menemui anakku sebentar, tak ada 10 menit aku harus keluar dari ruangan itu. Walaupun sudah pulang ke rumah, setiap hari aku datang ke rumah sakit untuk menyerahkan ASIP dan melihat anakku dari kaca.

Hari yang tidak diinginkan itu pun tiba. Perawat menelepon keluargaku dan meminta kami datang ke rumah sakit. Untungnya saat itu suamiku sudah ada di Kediri, jadi aku, suamiku, dan orang tua kami bisa langsung ke rumah sakit. Sesampainya ke sana suamiku langsung masuk ke ruang bayi untuk melihat kondisi anak kami. Aku juga ingin masuk, tapi ibuku menahanku. ‘Jangan masuk, nanti kamu tidak kuat,’ kata ibuku. Suamiku pun keluar dari ruangan itu sambil menangis.

‘Anak kita tadi sesak napas dan setelah itu dia lupa napas. Tapi jantungnya tetap berdetak. Sekarang dia muntah darah terus. Dokter bilang kemungkinan besar dia tidak akan bertahan lebih lama lagi. Sekarang para perawat dan dokter sedang berusaha keras untuk menyelamatkan anak kita,’ kata suamiku.

‘Innalillahi wa innailaihi rojiun,’ ucapku. Aku tak kuasa menahan tangis saat itu.

Tak lama kemudian dokter mengatakan bahwa nyawa anakku sudah tak tertolong. Aku langsung masuk ke ruang bayi. Aku lihat kondisi anakku. Dia sudah lebih gendut daripada terakhir kali aku melihatnya dari dekat. Aku bisa melihat kalau dia benar-benar anak yang tampan. Dia memiliki bentuk wajah yang bulat sepertiku. Rambutnya juga lebat dan hitam. Hidungnya mancung seperti hidungku, tapi tulang dan jari-jarinya panjang seperti bapaknya. Dia juga memiliki bibir yang tipis sepertiku, tapi warnanya gelap segelap warna bibir suamiku. Bibirnya tersenyum saat itu. ‘Alhamdulillah, Ya Allah,’ ucapku sekali lagi. Anakku meninggal dengan kondisi tersenyum. ‘Terima kasih, Ya Allah, Kau telah mengangkat rasa sakit yang dirasakan anakku. Berikan anakku surga, Ya Allah. Kasihi dia, sayangi dia, Ya Allah. Berikan kebahagiaan baginya, Ya Allah,’ ucapku dalam hati. Aku ciumi seluruh badan anakku, dari ujung kepala sampai ke kaki. Lalu aku pergi meninggalkan ruangan itu.

Anakku dimakamkan di hari yang sama dengan hari meninggalnya dia. Aku tak bisa mengantarkannya di peristirahatannya yang terakhir, karena saat itu aku masih dalam masa nifas. Aku sangat bersedih dengan meninggalnya anakku dan merasa sangat bersalah karena tidak bisa merawatnya dengan baik di dalam kandungan, tidak bisa menyusuinya secara langsung, bahkan tidak bisa mengantarkannya di pemakaman. Aku tak bisa berhenti menangis pada hari itu. Di malam hari saat aku berbaring di ranjang dan mencoba untuk tidur, aku mendengarkan bisikan suara yang halus. ‘Assalamu’alaikum, Salam,’ kata bisikan itu. Aku langsung membuka mataku lebar-lebar. Kondisi rumahku sunyi. Suamiku sudah tertidur, aku juga yakin semua anggota keluargaku juga sudah terlelap. Tidak mungkin itu mimpi, aku benar-benar sadar walaupun aku menutup mataku saat ada suara itu. Dan entah bagaimana, tapi rasa sedihku sedikit demi sedikit mulai berkurang.

***
Tiga minggu sudah kematian anakku, Salam. Sampai saat ini pun terkadang rasa sedih itu datang. Aku juga masih menangis jika teringat betapa sakitnya yang dirasakan anakku saat itu. Allah benar-benar menunjukkan bahwa aku hanya manusia biasa yang tidak memiliki kuasa apa-apa, kuasa hanya ada di tangan Allah. Dia bisa membuat anakku bertahan hidup tanpa asupan energi di dalam rahimku selama lebih dari sebulan, dan Dia juga bisa mengambil nyawa anakku kapanpun Dia mau. Yang bisa kulakukan hanya mengikhlaskannya serta merelakannya. Karena aku sadar bahwa semuanya hanya milik Allah. Nyawaku maupun nyawa anakku adalah milik-Nya. Aku tak berhak marah apabila sewaktu-waktu Allah meminta milik-Nya kembali.

Aku bersyukur dalam masa ujian dari Allah ini Allah memberikan berbagai kemudahan kepadaku. Pengurusan BPJS yang sangat mudah, sehari sudah jadi dan bisa langsung digunakan. Dan dengan itu aku terbebas dari biaya persalinan dan juga biaya perawatan anakku di NICU. Aku juga dipertemukan dengan obgyn dan bidan yang hebat dan baik serta rela membantuku pada masa-masa sulit itu. Aku juga sangat bersyukur Allah telah memberikanku suami dan anggota keluarga (khususnya ibuku) yang selalu mengingatkanku akan kuasa Allah, sehingga aku tetap bisa bersabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian ini.

Penantianku untuk bertemu Salam, pertemuanku dengan Salam, dan bahkan rasa kehilanganku atas meninggalnya Salam merupakan bukti kasih sayang Allah kepadaku dan juga keluargaku. Allah memberikanku hadiah terindah, yaitu anak yang suci tanpa dosa, yang aku yakini sekarang sudah bahagia di surga (dan itu adalah alasan aku bisa tetap bahagia karena yakin anakku sudah bahagia walaupun aku sendiri tidak pede saat mati nanti bisa terhindar dari siksa neraka. Hehehe. Semoga Allah kelak mempertemukanku dengan Salam). Allah juga mengajarkan pada kami tentang ikhlas dan sabar. Aku percaya Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dan aku percaya bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Aku berharap semoga rasa takut dan sedih yang kami rasakan bisa menghapus dosa-dosa kami selama hidup di dunia ini. Dan aku selalu berdo’a semoga Allah segera memberikan ganti atas kepergian Salam. Aamiin.

You May Also Like

10 komentar

  1. Mbak, semangat terus ya.
    Saya sampai berkaca-kaca pas bacanya

    ReplyDelete
  2. Terimakasih dukungannya, Mbak Nike. 🙏

    ReplyDelete
  3. Mbaaa, you are a great woman and mother!
    Allah nggak mungkin kasih sesuatu ke hambaNya kalau hambaNya nggak kuat.

    Ya Allah, semacam ada yang menuntun saya membaca tulisan ini, di saat beberapa hari ini saya merasa capeeekk banget ngurus anak-anak huhuhu.

    Masha Allah, betapa tidak bersyukurnya saya!

    ReplyDelete
  4. Iya, Mbak Rey. Semangat terus ngurus anak-anak ya, Mbak. Semoga anak-anak sehat dan pintar-pintar semua.🙏

    ReplyDelete
  5. Turut berduka dan prihatin Mba. Semua menjadi takdir terbaik dari Allah. Mata ikut berair baca kisah ini :(

    ReplyDelete
  6. Mba roem, aku nangis baca ini....:'(

    Mba roem ibu yang kuat dan hebat
    Insyaalloh akan segera digantikan di waktu yang terbaik menurutNya, amiiiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih doanya ya, Mbak Nita. 😊

      Delete
  7. Jangan terlalu menyalahkan diri dan bersedih mba.
    Mbak roem sudah jadi ibu terbaik untuk ananda Salam, walaupun akhirnya ananda tercinta harus pergi.
    Mbrebes mili saya mba baca kisah ini. Tak terbayang pedihnya. Teringat waktu melahirkan sulung saya dulu. Saya termasuk mudah melahirkan. Dan saya menangis sejadinya saat, setelah saya, terjadi proses melahirkan ibu lain yang sulit. Si anak meninggal sesaat setelah dilahirkan, ibunya menyusul kemudian karena pendarahan hebat, meski sudah dirujuk ke rumah sakit besar. saya ikut sediih sekali waktu itu. Dan sampai sekarang jadi pengingat kalau saya mulai lupa bersyukur pada Alloh.

    Tabah ya mba roem, semoga segera bisa punya baby lagi. Dan bahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terimakasih doanya ya, Mbak Dewi.🙏

      Delete

Komentar akan dimoderasi. Jadi mohon maaf sekali apabila komentar yang tidak sopan, mengandung kata kasar, menyinggung SARA, spam, dan yang berisi link hidup terpaksa tidak saya terbitkan. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.😄