Cinta Kepentok Weton

By Roem Widianto - January 29, 2020


Assalamu'alaikum.

Jatuh cinta itu indah. Ketika jatuh cinta, hidup terasa seperti di taman penuh bunga, hati pun ikut berbunga-bunga. Dunia terasa seperti milik berdua, sedangkan orang-orang yang ada di sekitar hanya dianggap ngontrak saja. Begitulah narasi orang-orang ketika jatuh cinta. Apalagi ketika sang kekasih sudah memutuskan ingin melamar. Pasti terasa senang bukan kepalang. Tapi bagaimana kalau lamaran ditolak orang tua karena adat? Khususnya bagaimana jika cinta dihadapkan dengan weton yang gak cocok??

WETON DI MASYARAKAT JAWA
Jawa banget kan ya, kalau bahas masalah weton ini? Hehehehe. Weton memang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat Jawa. Entah di daerah selain kawasan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY apakah ada  yang mirip-mirip dengan istilah weton ini dan mempercayainya.

Aku sendiri sebenarnya gak begitu paham dengan yang namanya weton. Tapi berdasarkan apa yang aku tangkap selama ini, weton adalah sistem penanggalan yang menjadi dasar dari ramalan. Dasar penanggalan ini adalah dari tanggal lahir.  Jadi dengan menggunakan tanggal lahir bisa diramalkan kehidupan seseorang, salah satu yang bisa diramalkan yaitu jodoh.

Dengan berdasarkan weton, orang biasa mengira-ngira bagaimana nanti kehidupan pernikahan yang akan dijalani, apakah baik atau buruk. Kalau wetonnya cocok kemungkinan pernikahannya baik, kalau wetonnya tidak cocok berarti sebaliknya. 

Lalu bagaimana dengan weton di mata masyarakat Jawa? Apakah semua orang mempercayainya? 

KETIKA CINTA YANG TERHALANG WETON
Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan seorang sahabat di salah satu acara akad pernikahan seorang teman. Sahabatku ini adalah seorang perempuan yang cantik, cerdas, penuh semangat, dari keluarga baik-baik, dan yang paling penting adalah dia perempuan yang shalihah. Benar-benar tipe perempuan yang nikah-able kan? Hehehe.

Sudah cukup lama kita gak bertemu, dan dipertemuan yang langka itu dia menceritakan satu kisahnya padaku. Kisah asmara khususnya. Dia bercerita bahwa ada seorang laki-laki yang berusaha mendekatinya. Awal mulanya dia tidak menggubris, karena prinsipnya yang tidak mau berpacaran. Tapi karena begitu ngototnya si lelaki mencari perhatiannya, akhirnya sahabatku luluh juga hatinya. 

Walaupun hati sudah luluh, sahabatku tetap tidak mau berpacaran dan memutuskan untuk ta'aruf saja, toh dua-duanya memiliki usia yang pantas untuk menikah dan lelaki itu juga termasuk laki-laki yang baik-baik. Singkat cerita, si lelaki mengajak sahabatku untuk bertemu dengan ibunya di sebuah resto. Nah, dipertemuan pertama dengan calon mertuanya itu, sahabatku ditanyai mengenai wetonnya. Dan diketahuilah ternyata weton sahabatku dengan si lelaki itu gak cocok. Calon mertua hanya berkata kepada sahabatku, kalau semua pilihan ada di tangannya, terserah mau lanjut menikah atau tidak. Tapi setelah kejadian itu, si lelaki seolah menjauh dari sahabatku. Rencana untuk melamar tidak terdengar lagi. Entah lamaran itu akan datang atau tidak. 

Ketika mendengar tentang curhatannya, aku cukup tahu dengan apa yang dirasakan sahabatku. Tentunya dia kecewa dengan si lelaki karena sebelumnya si lelaki sudah berkomitmen untuk melamar, tapi setelah bertemu dengan ibunya kok malah lelaki itu menjauh seolah tak peduli lagi dengan lamaran yang seharusnya dilaksanakan beberapa bulan lagi. Di sisi lain, aku juga paham dengan perasaan ibu lelaki itu. Sebagai ibu, pasti sayang kepada anaknya. Ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Sahabatku perempuan yang baik, hanya saja wetonnya gak cocok dengan anak si ibu. Dan karena weton yang gak cocok, beliau takut kalau saja kehidupan pernikahan anaknya dengan sahabatku tidak berjalan dengan baik. Dan itulah kemungkinan alasan kenapa lelaki itu tiba-tiba menjauh dari sahabatku. 

WETON GAK COCOK, PERGI ATAU BERTAHAN?
Sahabatku adalah perempuan Jawa. Keluarganya juga adalah keluarga asli Jawa, tergolong priyayi malah. Tetapi mereka tidak mempercayai ramalan weton. Itu menunjukkan bahwa gak semua orang Jawa percaya weton.

Setelah aku mendengar kisah sahabatku, aku memberi sedikit masukan untuknya. Boleh-boleh saja menunggu lamaran si lelaki itu, tapi jangan menutup hati hanya untuk dia. Sahabatku adalah perempuan baik-baik yang pantas untuk dipertahankan. Kalau lelaki itu terus menjauh, sahabatku pantas mendapatkan yang lebih baik dari pada dia.

Kalau pun ada teman yang bernasib sama dengan sahabatku, yaitu cinta tapi weton gak cocok. Saranku adalah sebaiknya putus saja mumpung rasa cinta belum terlalu dalam. Toh di luar sana yang lebih baik dan lebih shalih/shalihah dari pasangan kalian saat ini amat sangat banyak. Tinggal pilih lah pokoknya. Selama belum menikah, jangan menutup hati untuk orang yang wetonnya gak cocok dengan kita.

Aku memberi saran seperti itu bukan karena aku percaya dengan ramalan weton, bukan karena aku gak percaya dengan ajaran Islam. Malah sebaliknya. Sesuai dengan agama Islam, aku percaya bahwa semua hari itu baik. Semua hari kelahiran setiap orang itu baik, semua hari pernikahan setiap orang itu baik. Dan aku percaya setiap orang pasti diuji, begitu juga dengan kehidupan pernikahan pasti ada ujian. Karena percaya bahwa setiap pernikahan pasti ada ujiannya ini lah, pernikahan bagi orang-orang yang wetonnya gak cocok akan terasa lebih berat saat dilanda ujian.


Ujian bagi setiap pasangan di kehidupan pernikahan sudah biasa. Ujian jika disikapi dengan benar bahkan bisa menambah erat hubungan suami-istri. Membuat suami-istri saling mengerti satu sama lain dengan lebih baik. Membuat suami-istri semakin kompak menjalani mahligai pernikahan untuk kedepannya. Ngomong-ngomong itu kata ibuku lho ya, mengingat aku menikah belum sampai 2 tahun. Hehehe.😂

Tapi berbeda halnya jika pasangan suami-istri yang menikah tapi wetonnya gak cocok. Oke, ketika menikah mungkin mereka gak percaya dengan ramalan weton. Tapi ketika ujian melanda, kemungkinan besar akan terasa lebih berat. Kenapa? Karena sugesti 'weton gak cocok' ini sudah terlanjur menancap di pikiran alam bawah sadar mereka. Jadi ketika ujian datang, pasti yang pertama kali terpikir adalah: "Apa karena weton gak cocok ya? Apa sebenarnya memang gak jodoh?" Dan karena ada pikiran itu, hati yang saat prosesi akad nikah dulu kokoh menjadi goyah. Dengan begitu pernikahan akan terasa berat dan tak jarang menghasilkan perceraian. 

Tapi kalau kedua belah pihak sudah paham bahwa setiap pernikahan pasti diuji dan yakin kalau akan tetap kuat dan saling menguatkan saat ujian itu datang kelak, ya gapapa terus dilanjutkan nikahnya. Pokok harus tetap yakin dan optimis bahwa apapun ketetapan Allah di masa depan, itulah yang terbaik untuk keduanya. Jika ketetapan Allah itu baik atau mendapatkan anugerah, selayaknya bersyukur. Dan bila mendapatkan ketetapan yang tidak enak alias ujian, sebaiknya bersabar.

Jika kalian termasuk golongan yang tetap menikah walaupun weton gak cocok, percayalah, setiap orang pasti diuji dan setiap pernikahan pasti ada ujiannya. Jadi ketika ujian datang, itu bukan karena weton kalian gak cocok, juga bukan karena kalian gak jodoh melainkan memang begitulah hidup: penuh ujian. 

***

Kalau teman-teman gimana nih, menanggapi fenomena cinta saat weton gak cocok? Atau jangan-jangan ada dari kalian yang punya pengalaman weton gak cocok. Share di kolom komen ya.😊

Wassalamu'alaikum.

  • Share:

You Might Also Like

32 komentar

  1. Aku sih bebas Kak, tapi aku nggak memahami tentang weton. Menurutku, setiap orang berhak untuk percaya dan tidak juga. Sama halnya aku. Meski aku bebas, aku tetap berusaha mengajeni orang tua yang masih memikirkan weton karena hal seperti ini tak boleh dipatahkan. Kenapa? Ya karena, pelibatan pada weton termasuk kebiasaan orang Jawa.

    Sebisa mungkin netral, tapi kalau memang terpaksa kepentok wetok, sebisa mungkin mencari solusi terbaik. Bisa bertahan atau pergi. Masing-masing memiliki resiko sendiri. Aku juga belum bisa memutuskan akan bertahan atau pergi seandainya kepentok weton. Karena sejauh ini, di dalam keluargaku nggak ada pembahasan tentang "pacar kamu anak mana? wetonnya apa?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku dulu pacar udah kelihatan serius mau nikah, orang tua langsung nanyain wetonnya apa. 😂

      Sebenarnya weton cocok atau gak cocok tetap bisa nikah kok. Setahuku ada semacam ritual adat yang dilakukan supaya weton yang gak cocok bisa tetap nikah dan terhindar dari kemungkinan-kemungkinan buruk dari ramalan weton kok. Tapi ya sekali lagi, bisa percaya bisa tidak. Hehehe.

      Delete
  2. Pengalamanku yang terlahir di keluarga Jawa. Ketika aku memutuskan untuk menikah, bapak sih gak ngitung weton aku & suami (calon suami dulu) cocok atau ga. Justru pas mencari tanggal nikahnya yang pakai hitungan weton. Tapi itu juga gak saklek sih.. Masih bisa di nego. Masing2 keluarga Jawa punya adat dan kebiasaan masing-masing sih ya.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, Mbak. Ngomong-ngomong beberapa daerah di Jawa angka weton yang dianggap gak cocok beda-beda lho. Di kampung halamanku dan ditempatkan merantau sekarang kepercayaan angka weton yang dianggap gak cocok udah beda. Jadi mungkin aja di daerah ini wetonnya cocok, di daerah lain wetonnya dianggap gak cocok. Hehehe.

      Delete
  3. hehe bener nih, tmn saya aja katanya ada yang tahan ijab kabul ulang setelah dia ganti nama dulu. haduh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, baru tahu ternyata nama juga bisa menentukan ramalan jodoh cocok atau tidak. Tradisi di Indonesia ternyata beragam ya. Hehehe.

      Delete
  4. persoalan cinta memang best untuk dilayan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pembahasan masalah cinta memang selalu menarik untuk dibahas, apalagi kalau bersinggungan dengan beberapa tradisi yang ada di sini, tuan.

      Delete
  5. Sebenarnya aku ga mau percaya dengan hitung-hitungan weton Jawa begini, namun kata orang tuaku, kita hidup di tanah Jawa(tanah kelahiranku) di mana hal tersebut dipercayai sebagian besar masyarakat, kita ikutin aturan yang berlaku.

    Karena adekku pernah kepentok weton dan bubar.

    Pas aku, beruntung banget meski ga pacaran pas dia minta aku ke orang tua weton kami sama dan nurut orang tua (yang ngerti weton) itu boleh dilanjut, namun banyak nasehat-nasehatnya seperti harus salah satu ngalah kalau ada pertengkaran karena kamis ama-sama dominan, harus sabar, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika terlanjur menikah tapi kepentok weton memang harus lebih kuat menjalani dunia pernikahan, Mbak. Karena selain harus menyelesaikan ujian dan cobaan dalam pernikahan, juga harus melawan sugesti-sugesti tentang weton gak cocok yang diartikan sebagian orang gak jodoh. Pilihan paling aman memang ikut saja pendapat para orang tua dan sesepuh yang paham masalah weton, seperti halnya yang mbak, aku, dan mayoritas orang-orang Jawa lakukan. Tapi bagaimanapun situasinya saling mengalah, saling menghormati, saling menyayangi merupakan saran yang baik dari orang tua untuk selalu dilakukan semua pasangan yang sudah menikah supaya pernikahannya senantiasa adem ayem.😊

      Delete
  6. Waalaikumsalam kakak.

    Kasihan juga ya sahabat nya, tadinya getol pengin jadian, begitu tahu wetonnya tidak cocok malah menjauh.

    Kalo aku sih seperti kakak, semua hari itu menurutku baik apalagi hari Jumat.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau gimana lagi, Kang, kalau mau aman dari sugesti-sugesti buruk saat sudah menikah, mending cari yang weton cocok saja. Insyaallah sahabatku pun pasti dapat jodoh yang lebih baik dari laki-laki itu jika memang si laki-laki gak mampu bertahan.😊

      Delete
    2. Iya sih, Allah pasti akan memilih kan jodoh yang baik untuk wanita yang baik dan Sholehah.

      Tapi benar juga ya, misalnya weton ngga cocok lalu dipaksa menikah nanti kalo ada masalah, misalnya nyari rejeki agak susah timbul sugesti buruk. Padahal menurutku semua sudah ditentukan oleh Allah SWT.

      Delete
    3. Iya, Kang. Mending ikut kata orang tua aja. Bukan karena percaya ramalan weton, tapi takut kalau di masa depan jadi sering berprasangka buruk sama ketentuan Allah. Hehehe.

      Delete
  7. Wa'alaikumsalam .
    Kalo aku sendiri gak begitu paham dengan weton. Kasian sih udah benar-benar cinta tapi wetonnya gak cocok sampe gak direstui orangtua.. kalo ditempatku sih bebas-bebas aja, asal saling mencintai dan mau saling bertanggung jawab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting cinta dan saling tanggung jawab ya, Mas. 😆

      Delete
  8. Saya bukan orang Jawa sih, tapi tetep juga ada yang namanya perhitungan gitu di suku orang tua saya :D

    Dan saya nggak percaya sama weton-weton, namun tahu juga alasan mengapa weton diadakan.

    Menurut saya, tidak ada salahnya kita peduli ama weton, asal bisa mengira-ngira batasnya, maksudnya janganlah weton dijadikan semacam tolok ukur utama, tapi bisa dijadikan sebagai modal sikap dalam menjalani pernikahan.

    Weton sebenarnya diciptakan oleh para tetua bukan ngasal gitu, tapi bisa jadi karena ilmu statistik zaman baheula :D

    Di mana, mereka sudah mempelajari, orang yang lahirnya tanggal segini, biasanya karakternya gini, jadi dia cocoknya ama yang karakternya gitu, dengan gitu mereka DENGAN MUDAH BERBAUR DALAM PERNIKAHAN.

    Ini sama juga dengan bibit bobot bebet, sebenarnya bukan mengkotak-kotakan sosial, tapi mengantisipasi dengan realistis mengenai karakter 2 orang manusia yang bakal menikah dan hidup selamanya berdua itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, Mbak Rey. Weton kan termasuk budaya juga. Kalau gak dilakukan ntar Jawa kehilangan budaya alias identitasnya. Tapi kalau percaya ramalannya, kan agama yang dianut mayoritas orang Jawa (Islam) melarang untuk percaya ramalan. Ngomong-ngomong ramalan horoskop kan juga dari ilmu statistik zaman baheula, jadi weton sama horoskop itu sejenis, cuma beda negara lahirnya aja kali ya. 😂

      Setuju banget sama pendapat Mbak Rey, mending ikut aja tradisinya. Tapi kalau masalah percaya atau tidak ramalannya, itu pilihan pribadi masing-masing, urusan hamba sama Tuhannya saja. Hehehe

      Delete
    2. Hahaha betul, bahkan ilmu-ilmu zamans ekarang itu juga sebenarnya dari zaman baheula yang sudah dipoles-poles dan ditemukan solusinya, misal komunikasi sebelum pernikahan, bahkan pelatihan dan perjanjian pranikah itu kan memang diawali dari perbedaan karakter itu :)
      Yang mana dulunya cuman tahu kalau wetonnya nggak cocok nggak boleh nikah, nah sekarang weton nggak cocok dicariin jalan biar bisa nikah dengan beberapa syarat :D

      Delete
    3. Perjanjian pranikah itu kalau suatu saat nanti pisah, biar gak ada pihak yang dirugikan itu ya, Mbak Rey?😄

      Delete
    4. Bukan hanya untuk jaga-jaga kalau pisah sih, tapi juga membahas masalah pernikahan nanti.
      menyamakan visi dan misi, mengenal karakter masing-masing, jadi besok-besok saat udah nikah, udah tahu sela karakter masing-masing, dan kalau ada konflik, bisa segera diselesaikan dengan baik :)

      Delete
    5. Wah, berarti pemahamanku tentang perjanjian pra nikah ini masih salah. Hehehe.

      Inilah yang Kusuka dari diskusi melalui blog, jadi punya ilmu baru.😆

      Delete
  9. Aku orang jawa juga.. tapi Alhamdulillah pas nikahan kemarin gak pake itung2an weton. Jadi ya udah, kalo udah sama-sama sukak lanjut aja gitu. Alhamdulillah keluarga ku gak terlalu kentel banget ngikutin tradisi jawa nya hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Mbak. Enak gitu sebenarnya. Kalau ikut weton, kadang hasil ramalannya kurang bagus. Nah, yang dapat kurang bagus ini pas nikah jadi bawaannya was-was mulu. Hehehe.

      Delete
    2. Sumpah nggak enak hitung-hitung weton, terus nggak cocok terus jadi kepikiran :(

      Delete
    3. Biasanya jadi sering suudzon kalau lagi ada masalah keluarga, Mbak Rey.😱 Mending cari yang cocok saja lah, biar enak jalaninya.

      Delete
  10. Saya keturunan jawa tapi nggak ikut weton dan ortu juga dari dulu nggak pernah bahas bahas weton ~ pun soal pernikahan nggak pakai hitung weton, jadi ketika pilih tanggal karena cantik saja tanggalnya bukan karena weton :D

    Tapi saya paham kenapa ibu si pria kawatir ~ saya pikir, sang ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya dan secara nggak langsung juga ingin yang terbaik untuk teman mba. Karena kan apabila ketidak cocokan itu terjadi, dasarnya atas dua belah pihak, bukan hanya menyalahkan si pihak teman mba saja :D

    Saya doakan semoga teman mba ketemu jodoh yang cocok dengannya dan menerima teman mba tanpa embel-embel weton segala yaaa :>

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun sebenarnya lebih setuju kalau gak pake weton, Mbak. Tapi sudah tradisi di kampung halaman kalau nikah pasti ditanyai wetonnya. Minimal untuk menentukan hari nikahnya kapan. Jadi ya ikut aja tradisinya tapi kalau ramalannya aku abaikan, hitung-hitung berkontribusi melestarikan budaya. Hehehe.😂

      Aamiin. Semoga dia ditemukan dengan laki-laki yang lebih baik dan menerima dia apa adanya.🙏
      Terimakasih doanya ya, Mbak. 😄

      Delete
  11. Jadi keinget kakak saya dulu. Udah terlanjur cinta banget, tapi nggak bisa nikah karena masalah adat jawa juga. Sedih banget, tapi mau gimana lagi, orangtua percaya banget ama begituan. Untungnya sekarang udah dapat pengganti, udah nikah dan punya anak. Semoga temenya mbak roem juga segera dapat penggantinya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Mbak. Memang benar laki-laki diluar sana yang baik dan wetonnya cocok banyak, jadi kalau calon suami wetonnya gak cocok ganti aja sama laki-laki lain yang wetonnya cocok. Biar sama-sama enaknya dan gak was-was menjalani kehidupan pernikahan. Hehehe.

      Delete
  12. Gw orang jawa, bini jawa. Dan semua keluarga gak ada yang percaya weton. Walopun lingkungan masih percaya gitu. Kita mah mana peduli sama omongan orang. Yang menjalani kita kok. Yang penting jangan nikah di bulan puasa aja. Irit biaya katering dong ntar, wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, asik tuh sebenarnya kalau nikah di bulan puasa. Gak perlu cari katering. Tapi berakhir jadi omongan tetangga. Kata mereka jadi orang kok medit banget, nikah di bulan puasa. Hehehe.😂

      Delete

Komentar akan dimoderasi. Jadi mohon maaf sekali apabila komentar yang tidak sopan, mengandung kata kasar, menyinggung SARA, spam, dan yang berisi link hidup terpaksa tidak saya terbitkan. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.😄