Gara-Gara Corona: Mari Kita Sambat Hari Ini

by - April 21, 2020


Assalamu'alaikum.

Halo, dulur-dulur. Gimana nasib kalian hari ini? Eh, maksudku gimana kabar kalian? Semoga sehat-sehat semua, ya. Aamiin.

Tidak seperti biasanya, kali ini aku ingin sambat (Jawa: mengeluh) melalui tulisanku ini. Sebenarnya aku ini termasuk orang yang gak gampang sambat lho, Lur. Di dunia nyata saja aku jarang sambat, apalagi di dunia maya. Bukan maksudnya aku ini jenis manusia yang tangguh yang gak butuh sambat sama sekali atau aku ini manusia istimewa yang tidak pernah didera ujian. Bukan, Lur. Melainkan aku ini cuma males sambat karena takut di-bully. Takut bukannya dimengerti, malah dapat omongan sinis macam "Ealah, gitu aja kok sambat. Yang masalahnya lebih ngenes daripada kamu itu lebih banyak!" Mbelgedes! Itulah kenapa aku lebih suka memendam semua perasaanku daripada harus sambat ke orang lain yang belum tentu bisa bersimpati dengan segala keluh kesahku.

Tapi, terkadang sambat itu perlu. Bukankah begitu, Lur? Terkadang hasrat untuk didengar begitu besar. Seperti halnya kali ini. Pokok aku pengen sambat hari ini. Aku ingin melepaskan segala penat di hati. Aku yakin kali ini gak bakal ada banyak orang yang bully aku (mungkin satu-dua ada), karena yang membuatku ingin sambat ini adalah sosok yang bukan hanya aku saja yang membencinya. Aku yakin mayoritas umat manusia di seluruh dunia pasti membencinya. 

Iya, benar. Hari ini aku ingin sambat dengan segala dampak dan pengaruh dari polah tingkah si 'biang kerok' Corona yang aku rasakan sehari-hari. Iya, yang aku sebagai manusia biasa ini rasakan sehari-hari, Lur. Jadi jangan harap aku membahas tentang dampak Corona terhadap perekonomian nasional atau global, karena ilmuku ini masih terlalu cetek (Jawa: dangkal) kalau harus membahas topik seberat itu. Aku mau bahas yang enteng-enteng saja, kok. Toh ini acaranya mau sambat, bukan mau bikin jurnal ilmiah.😅

Gak usah berlama-lama, biarkan aku langsung sambat saja, ya, dulur. Hehehe.

Materi Sambat 1: Mendadak Psikosomatis

Yang aku keluhkan saat awal-awal munculnya Corona di Indonesia adalah mendadak aku jadi gampang terserang psikosomatis. Bukan, bukan psikopat, lho ya. Baca baik-baik lagi. Psi-ko-so-ma-tis. Psikosomatis. Psikosomatis ini adalah penyakit yang yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana pikiran mempengaruhi tubuh sehingga penyakit muncul atau menjadi tambah parah. Ini semua terjadi, gara-gara Corona.

pexels/Alexander Dummer
Sejak awal munculnya kasus Corona di Wuhan, sebenarnya aku sudah mbatin kalau Corona ini tidak bisa dianggap remeh. Penularannya begitu masif saat itu. Dan banyak menelan korban jiwa juga. Apalagi saat pertama kali Corona ditemukan di Indonesia, tepatnya di Depok. Ditambah lagi tak lama kemudian ditemukan pula kasus positif Corona di Jakarta. Tambah bergidik aku.

"Kenapa harus takut? Sidoarjo-Jakarta kan jauh."

Dulu ada orang yang dengan jumawa bilang seperti itu. Kata siapa Sidoarjo-Jakarta jauh? Iya sih, kalau dilihat di peta Sidoarjo-Jakarta jaraknya cukup jauh, kurang lebih sekitar 700an kilometer. Walaupun begitu, tapi faktanya tempat tinggalku dengan Jakarta itu cuma berjarak satu jam 45 menit. Itu karena memang jarak rumahku hanya berkisar 15 menit dari Bandara Juanda, sementara jarak Bandara Juanda dari Bandara Halim Perdanakusuma atau Bandara Soekarno Hatta hanya satu setengah jam. Ngomong-ngomong, Bandara Juanda itu lokasinya di Sidoarjo ya, rek, bukan di Surabaya. Biasanya banyak orang yang salah paham, dikira Bandara Juanda ada di Surabaya. Jika kalian termasuk yang mengira seperti itu, mungkin karena mainmu kurang jauh, rek.🤭

Asal kalian tau, yang bikin penyebaran Corona ini semakin cepat ya salah satunya karena orang yang sudah terinfeksi Corona melakukan perjalanan (travel) dan dia tidak sengaja menularkan Corona ini saat melakukan travel ini. Nah, salah satu moda transportasi pilihan orang travel kan pesawat. Jadi sangat memungkinkan bahwa ada penularan yang terjadi di dalam pesawat atau di bandara. Padahal suamiku kerja di bandara. Itulah awal mula ketakutanku muncul.

Ketakutanku semakin nampak ketika di pertengahan Maret suamiku mulai menunjukkan gejala-gejala sakit. Awalnya panas, lama-kelamaan muncul gejala pilek, dan batuk-batuk. Mengingat gejala yang dialami suami mirip-mirip gejala awal Corona, aku jadi mulai ketakutan. Apalagi si suami susah banget diajak ke dokter. Ya sudah, akhirnya aku yang merawatnya sendiri dan memberinya obat yang biasa kami konsumsi kalau lagi selesma. Lagian mana tega aku membiarkan begitu saja suami tersayang yang lagi sakit.

Beberapa hari kemudian, aku ganti yang sakit. Ini pasti ketularan sakitnya suami, karena gejalanya juga sama. Tapi karena aku gak sekuat suami, jadi kondisi tubuhku lebih lemah dan jelas-jelas aku jadi terlihat lebih lemas. Gak hanya panas, batuk, dan pilek, aku juga merasakan sesak napas ringan. Rasanya bernapas menjadi lebih berat daripada biasanya. Tapi gobloknya, aku gak berani periksa ke dokter. Aku gak siap menerima jika aku benar-benar divonis positif Corona. Akhirnya aku memilih tetap di rumah saja dan rajin minum obat. Tapi ternyata setelah seminggu sakitnya sudah sembuh. Alhamdulillah, berarti kemungkinan besar sakitku cuma selesma bukan Corona.

Walaupun panas, batuk, dan pilekku sudah sembuh, tapi entah kenapa sesak napasku terkadang masih kambuh. Padahal aku gak punya riwayat sakit asma sama sekali, orang tuaku pun juga tidak memiliki penyakit ini. Makanya aku bingung banget saat sesak napas ini beberapa kali kambuh. Apalagi kambuhnya sering-sering ketika usai lihat berita Corona di televisi atau ketika melihat ada ambulan yang berhenti di salah satu rumah warga saat aku perjalanan menuju pasar. Setelah browsing-browsing di dunia maya, aku akhirnya paham kenapa sesak napas itu sering kali kambuh. Iya, itu gara-gara stress alias penyakitnya bisa disebut dengan psikosomatis. Lagi-lagi ini semua gara-gara Corona. Memang jahanam sekali Corona ini.


Alhamdulillah sekarang sesak napas ini sudah jarang kambuh. Tapi anehnya beberapa hari yang lalu sesak napas ini kambuh saat aku sedang ada di pasar. Kali ini sampai hampir membuatku tidak sadarkan diri alias hampir bikin aku semaput. Tapi setelah aku cek, ternyata gara-gara aku pakai maskernya terlalu ketat, jadinya susah napas. Akhirnya bisa diatasi dengan sedikit melonggarkan ikatan maskernya.😅

Materi Sambat 2: Gak Bisa Jalan-Jalan

Untuk menghambat penyebaran penularan Corona, pemerintah mulai menghimbau masyarakat untuk melakukan social distancing atau jaga jarak sosial. Gak hanya itu saja, himbauan itu berkembang menjadi gerakan di rumah aja. Tentunya inti dari gerakan ini ya supaya jaga jarak sosial juga.

Roem's Journal/Jaga Jarak Gara-Gara Corona


Karena aku termasuk dalam kelompok masyarakat yang berbudi luhur lagi patuh aturan, aku pun menerapkan semua himbauan pemerintah termasuk di rumah aja ini. Kalaupun keluar rumah, hanya aku lakukan seminggu sekali. Itu saja untuk beli stok bahan makanan di pasar untuk bertahan hidup di rumah.

Tapi, tahukah kalian, Lur, apa yang sebenarnya membuatku sambat dengan aturan jaga jarak dan di rumah aja ini? Yaitu karena aku jadi gak bisa jalan-jalan seperti yang aku lakukan sebelum Corona menyerang. Biasanya beberapa hari sekali aku nongkrong di angkringan, tapi kali ini jadi gak bisa. Bukan gara-gara takut ketularan penyakit dari virus jahanam ini atau karena saking patuhnya sama pemerintah. Melainkan karena takut digrebek aparat dan tersorot kamera wartawan. Kan gak lucu kalau aku jadi viral gara-gara nongkrong di angkringan saat Corona merajalela. Kalau viralnya karena tindakan yang terpuji sih gakpapa. Tapi kalau viralnya karena hal goblok seperti ini, aku sih gak sudi lah, ya.

Materi Sambat 3: Masak Apa Hari Ini?

Ini adalah hal yang disambati (Jawa: dikeluhkan) oleh sebagian besar kaum wanita terutama yang sudah emak-emak. Pasti kita dibuat bingung dengan menu apa yang harus dimasak dan disajikan untuk para anggota keluarga tersayang. Lebih bingung lagi kalau wanita itu gak pintar masak dan pengetahuan tentang bahan makanannya minim. Yaaaa, seperti aku ini.😂

pexels/DapurMelodi
Biasanya kalau bingung masak apa kayak gini, aku lebih memilih untuk makan di luar saja. Bukan di luar rumah, alias di teras, melainkan di warung atau tempat makan lainnya. Tapi, gara-gara ada himbauan untuk di rumah aja dan karena takut ditangkap aparat serta viral di tv atau dunia maya, akhirnya aku tidak melakukan kegiatan makan di luar itu dan lebih memilih menikmati kebingungan untuk 'masak menu apa' di setiap hariku.

Materi Sambat 4: Terancam Gagal Mudik

Sebenarnya ini sudah gak 'terancam' lagi. Melainkan sudah positif bakal gagal mudik. Itu karena kecamatan tempatku tinggal merupakan zona merah. Selain itu tetangga desaku yang jarak rumahnya gak lebih dari satu kilometer pun sudah ada yang meninggal gara-gara jadi PDP (Pasien Dalam Pemantauan) Corona. Apalagi kemungkinan besar sebentar lagi diadakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Sidoarjo, terutama di daerah-daerah yang statusnya zona merah (pasti kecamatan tempatku tinggal kena PSBB). Jadi sudah dipastikan lebaran kali ini aku gak akan mudik. Padahal lebaran kan enaknya kumpul sama keluarga di kampung halaman. Huuuuh..

Roem's Journal/Jaga Jarak Gara-Gara Corona
Ngomong-ngomong, selain gara-gara alasan di atas, ada alasan lain yang membuatku tidak mudik. Itu karena sebenarnya aku tidak tau ada tidaknya virus Corona di dalam tubuhku. Meskipun aku merasa sehat, tapi mengingat aku tinggal di daerah zona merah, takutnya jangan-jangan aku ini carrier dan bisa menularkan penyakit ini ke orang lain terutama ke keluargaku jika aku mudik. Apalagi orang tua dan mertua sudah punya penyakit bawaan tersendiri. Jadi walaupun terkadang masih sambat, tapi aku harus legowo untuk tidak mudik sampai pandemi wabah virus jahanam ini berakhir.


Weleh-weleh, gak terasa ternyata aku sudah mengetik sekitar 1.400 kata. Pantesan tangan ini sudah mulai pegal-pegal. Sebenarnya masih ada beberapa hal yang membuatku sambat gara-gara Corona. Tapi aku sudah terlanjur males ngetik. Soalnya sudah capek tanganku. Cukup sampai sini saja aku sambat-nya. Hehehe.😅

Sudah ya, Lur. Semoga kita sehat-sehat terus semua. Juga semoga pandemi virus ini segera berakhir dan kita bisa segera beraktivitas seperti biasanya. Jangan lupa jaga kesehatan dan sering-sering cuci tangan pakai sabun, ya. 

Eh, kalau kalian gimana? Ada yang membuat kalian sambat gara-gara Corona, gak? Walaupun kita harus banyak-banyak bersyukur, tapi mungkin sesekali sambat tidak ada salahnya. Mari kita sambut sambat hari ini di kolom komentar yuk, Lur.😂

instagram/nantikitasambattentanghariini


Sumber:
https://www.alodokter.com/gangguan-psikosomatis-ketika-pikiran-menyebabkan-penyakit-fisik
https://m.liputan6.com/amp/4232318/ada-14-kecamatan-di-sidoarjo-bakal-terdampak-rencana-penerapan-psbb

You May Also Like

5 komentar

  1. Sambat saya adalah, I HATEEEEEEE MASAK TERUS!!!!
    Huhuhuhu, mana si adik picky eater, dia cuman mau makan makanan yang dia sukai, sementara kakaknya bosan, kalau masak yang itu-itu saja.

    Kalau mudik, kayaknya sih bakal ada yang mudik juga sih, bahkan beberapa orang udah mudik sejak sekarang kok, palingan sisa yang memang kudu kerja saja.
    terlebih sekarang banyak banget pengangguran, cari kerja di kota susah, jadinya mudik deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang mbak, kan ada go-food, tinggal pencet pencet nanti makanan datang. Yang penting siapkan duit yang banyak.🤣

      Delete
    2. Setuju sama sarannya mas Agus aku, Mbak. Pesan gofood aja, tapi siapkan duit yang banyak. Eh tapi aku lebih milih pusing-pusing mikir tiap hari masak apa aja deh. Sayang kalau uang buat ongkir.😂

      Delete
  2. Saya apa ya yang mau disambat? Bingung saya, bukan karena tidak ada yang mau dikeluhkan tapi karena ngga pintar sambat, nanti dikira malah kesambet.😱

    Ok mbak Roem, semoga saja keadaan cepat berlalu dan bisa nongki nongki lagi sama suami dan teman di angkringan. Itu aja sih, soalnya ngga pintar nulis sayanya, maafkeun ya.🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bagus, mas. Berarti mas Agus ini tipe manusia yang tangguh karena bisa kuat gak sambat. Kesayangan istri ini pasti mas Agus. Tiap hari kalau diomelin istri pasti gak bakal sambat deh. Eh, kabuuuur 🏃🏃🏃😂

      Delete

Komentar akan dimoderasi. Jadi mohon maaf sekali apabila komentar yang tidak sopan, mengandung kata kasar, menyinggung SARA, spam, dan yang berisi link hidup terpaksa tidak saya terbitkan. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.😄