Aku Istri, Bukan Babu!

by - May 17, 2020


Assalamu'alaikum.

Siapa yang punya hobi scroll timeline Twitter angkat tangan. ✋

Eh, iya. Aku yang angkat tangan duluan. Hehehe. Sebenarnya aku tergolong baru punya akun Twitter. Followers nya pun masih sedikiiiiiiit banget. Tapi entah kenapa aku suka banget scroll timeline Twitter. Mungkin itu karena kadang aku bisa menemukan twit yang mengundang perdebatan. Soalnya asik banget baca komen-komen yang memperdebatkan twit itu, macam orang yang lagi bertikai. Serius deh, aku suka banget melihat pertikaian 😬. Kalian gitu juga gak? Sepertinya gak deh. Soalnya kan kalian orang-orang baik πŸ˜„.

Yang paling baru aku baca adalah twit yang membahas tentang perempuan zaman sekarang yang marah kalau disindir gak bisa masak dan malah ngomong "cari istri apa babu".  Lalu si sender melanjutkan bilang, kalau gak ada hubungannya masak sama babu, emang dasarnya aja si cewek kayak gitu manja maunya dinafkahin tapi gak mau nyenengin keluarga. 

Ini yang sempat aku screenshot sebelum akhirnya dihapus sama Mas Uye
Bener, sih, masak gak ada hubungannya dengan babu. Tapi perempuan yang gak bisa masak bukan berarti cuma mau dinafkahin doang, bukan berarti gak mau nyenengin keluarga. Toh nyenengin keluarga caranya ada banyak, gak cuma dengan masak tok (Jawa: saja). Kalau cuma pengen dimasakin doang sih, mending cari ART aja kan, ya? πŸ˜…

Ngomong-ngomong, dari twit nya itu saja sudah bikin banyak orang berdebat di kolom komentar. Apalagi kalau ditambah dengan twit nya yang kedua yang terkesan melecehkan kaum perempuan. Jadi makin panas lah suasana.πŸ₯΅

Ini screenshot twit Mas Uye selanjutnya yang aku comot dari thread nya Chef Arnold Poernomo
Gimana menurut kalian, rek? πŸ˜…


"Istri Harus Bisa Masak" dari Sudut Pandang Laki-laki

Kalau dilihat dari komen yang ada di twit itu, mayoritas tidak setuju dengan pendapat Mas Uye. Dan banyak dari yang tidak setuju itu juga merupakan kaum laki-laki. Jadi walaupun punya gender yang sama dengan si Mas Uye, banyak juga kok yang kurang atau bahkan tidak sependapat kalau perempuan harus bisa memasak untuk bisa menjadi istri yang baik. Jadi berlega hati lah wahai kalian teman-teman perempuan yang gak bisa masak. Masih banyak laki-laki yang suka dengan kalian, walaupun kalian gak bisa masak.

Bahkan suamiku yang ngintip-ngintip aku yang lagi baca twit itu pun ikut ngoceh. Katanya tuh Mas Uye kayaknya mainnya kurang jauh. Atau kalau gak gitu kepalanya habis kebenthuk (Jawa: terbentur) benda keras, makanya pikirannya jadi dangkal. Bayangkan, suamiku yang notabene laki-laki aja gemes baca twit nya doi. Apalagi para perempuan di luar sana.🀭


Masak = Menyenangkan Keluarga?

Yak, betul banget. Masak adalah salah satu cara untuk menyenangkan keluarga. Aku kasih bold di kata "salah satu", supaya kalian-kalian yang baca ini gak salah tafsir. Masak memang cara untuk menyenangkan keluarga, tapi itu hanya satu dari sekian banyak cara yang bisa dilakukan orang untuk menyenangkan keluarganya.

Toh masak gak satu-satunya cara untuk menyenangkan keluarga. Walaupun gak bisa masak pun, para perempuan masih bisa kok menyenangkan keluarga. Contohnya memberikan perhatian, memberikan kasih sayang, ramah, penyabar, bersahabat, murah senyum, jaga penampilan, pintar mengurus rumah, pintar mengurus keuangan rumah tangga dan masih banyak lagi. Kalau seumpamanya istri pinter masak tapi juga punya hobi gampang marah-marah dan suka bentak-bentak, emang suasana rumah bisa senantiasa menyenangkan?

Kalau pun masih ngengkel (Jawa: bersikeras) pengen nikah sama yang pinter masak, mending nikah aja sama Chef Juna. Kemampuan memasaknya sudah tidak perlu diragukan lagi. πŸ˜‚


Aku Istri, Bukan Babu!

Walaupun aku kurang setuju dengan pendapat tentang "istri yang harus masak', tapi bukan berarti aku sama sekali gak bisa masak. Ngomong-ngomong, aku merupakan picky eater yang gak bisa makan makanan yang bukan masakan ibu. Bisa sih makan makanan yang bukan masakan ibu, tapi makanannya harus bener-bener enak dan biasanya makanan model seperti itu harganya mahal. Karena sadar akan hal itu dan sadar bahwa gak selamanya aku hidup bareng ibu, jadi sejak masih gadis aku sudah belajar memasak. Bukan belajar masak makanan yang ribet-ribet sih, cukup yang aku suka makan doang. Oleh karena itu ketika menikah aku sudah bisa masak beberapa menu masakan dan rasa masakanku sesuai banget dengan seleraku sendiri.

Walaupun sudah bisa memasak, tapi sebenarnya suamiku tidak pernah memaksa aku harus memasak setiap hari. Alasannya karena kata beliau, urusan domestik seperti halnya bebersih rumah, cuci-cuci, dan juga memasak adalah tugas suami sebagai salah satu wujud memberikan nafkah kepada keluarga. Jadi menurut beliau kalau aku melakukan semua urusan domestik itu, berarti aku sedang berbaik hati meringankan tugasnya. Kalaupun aku gak melakukannya pun gakpapa, toh bisa sewa ART atau bisa beli makanan di luar. Tapi sekali lagi, karena aku ini suka gak cocok masakan orang lain, ya akhirnya aku tetep masak juga. Jadi memasak buatku itu adalah suatu hal yang harus aku lakukan untuk bertahan hidup (gara-gara gak doyan masakan orang lainπŸ˜…).

Oh iya, kalau kata Kang Maman Suherman, istri itu merupakan teman hidup, bukan hanya sekedar teman tidur atau bahkan babu. Jadi istri adalah sosok yang membersamai suaminya dalam menjalani hidupnya, di saat senang maupun susah, di saat suka maupun duka. Bersama istri, seorang suami bisa membina keluarga bersama. Bersama istri, bisa saling belajar dan tumbuh mendewasa berdua. Jadi mengukur baik tidaknya hubungan pernikahan atau hubungan suami istri itu gak sesederhana dengan cara mengukur skill atau kemauan memasak seorang calon istri doang. Karena dalam rumah tangga juga gak cuma berkutat di masalah perut aja.

Ngomong-ngomong gakpapa sih, kalau punya standar calon istri itu harus bisa masak. Tapi jangan menggeneralisir kalau yang gak bisa masak itu artinya pemalas atau gak mau nyenengin keluarga. Apalagi belum apa-apa sudah melecehkan perempuan. Duh, kan jadi geram semua tuh para perempuan yang baca. Termasuk aku juga ikut-ikutan geramπŸ™ˆ. 


***

Memasak merupakan suatu kemampuan bertahan hidup dasar. Bayangin deh, kalau kita tiba-tiba terdampar di sebuah pulau terpencil. Untuk bertahan hidup minimal kita harus bisa mengolah makanan mentah yang ada di situ agar bisa menjadi makanan layak makan. Jadi sebenarnya memasak itu bukan kemampuan yang hanya ditujukan untuk perempuan aja. Laki-laki juga oke kalau punya kemampuan memasak. Chef Arnold tuh, contohnya.


Kan ini situasinya gak lagi terdampar di pulau terpencil, nih. Jadi kalau perempuan gak bisa masak ya gakpapa, oke-oke aja. Toh gak semua laki-laki juga bisa benerin genteng ataupun benerin pipa, kan? Jadi kalau gak bisa masak, ya gakpapa. Toh bisa belajar. Apalagi kalau belajar masaknya berdua, kan jadi romantis, tuh. Macam adegan di drama Korea, gitchuuu. Bisa sambil bercanda juga. Kan, asik jadinya. 

Kecuali kalau kalian-kalian ini laki-laki yang gak bisa masak, dan punya rencana hidup berdua dan berbahagia di pulau terpencil, boleh tuh cari istri yang bisa masak. Jadi paling gak, istrinya bisa masak, nah si suami yang berburu di hutan. Cucok, kan? Hehehe. Bercanda.

Eh, ngomong-ngomong menurut kalian standar calon istri atau suami idaman tuh seperti apa, sih? Kepo, aku. Apa bener standarnya calon istri harus bisa masak atau calon suami harus bisa benerin genteng?πŸ€”

Wassalamu'alaikum.

You May Also Like

80 komentar

  1. kalo mnurut aku yaa.. saat ini aku blom ada gambaran mau cari istri yg gimna wkwkwk... soal nya saya masih bocah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah sudah. Kamu jangan ikut-ikutan mikir yang kyk gini dulu ya, nak. Benar apa yang kamu lakukan sekarang, banyak-banyak belajar. Supaya cita-citamu kelak tercapai. 🀭

      Delete
  2. Waduh kalau standar pasangan idaman adalah bisa masak, maka saya nggak masuk standar mba karena saya nggak bisa masak :)) maksudnya nggak bisa masak yang susah-susah, kalau yang biasa masih bisa meski kadang hambar atau keasinan *lha jadi bisa apa nggak? Kok jadi rancu, ya* hhaahaha ~

    On a side note, buat saya menyenangkan keluarga itu nggak hanya dari masakan. Sedih amat kalau cuma dilandaskan oleh masak-memasak ~ padahal ada berbagai cara untuk menyenangkan keluarga seperti yang mba Roem sebutkan di atas :D nggak adil dong kalau cara lainnya jadi nggak dianggap hahaha.

    Jadi menurut saya, bisa memasak itu bonus dan ketika nggak ada paksaan dari pasangan, biasanya justru lebih semangat belajar dan yang tadinya nggak bisa pun jadi bisa :D saya pribadi nggak pernah dipaksa untuk memasak meski sekalinya masak pasti dipuja-puji (biar terus masak kamsudnya), tapi si kesayangan selalu bilang, "Nggak apa-apa kalau nggak mau masak, kan beli juga bisa." hahahaha. Lagi juga dia pilih saya bukan karena butuh orang untuk masak, tapi dia pilih saya sebagai pasangan untuk menjalani hidup sampai akhir hayat saat orang lain datang dan pergi dengan mudahnya, disitulah dia ingin saya tetap ada. Bukan kah itu makna sebenarnya dari sebuah ikatan? :D entahlah, CMIIW hehehehe.

    Yang pasti, saya setuju dengan apa yang mba Roem tuliskan. Dan kalau ditanya standar saya apa, yang pasti bertanggung jawab dan bisa menjadi pemimpin yang bijaksana juga partner dalam suka maupun duka <3 nggak sampai harus jago pasang genteng, pintar betulkan pipa, dan lain-lainnya :)) terima kasih atas tulisan hari ini mba, so gewd :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku setuju banget sama Mbak Eno kalau bisa memasak itu bonus. Dan kalau gak ada paksaan dari pasangan, istri malah lebih semangat masak. Apalagi kalau hasil masakannya dipuji sama suami. Waduh, tambah semangat masak tuh. Soalnya aku juga ngalamin yang kyk gini.πŸ™ˆ

      Dan aku setuju banget, Mbak, kalau menikah itu gak hanya sekedar tentang masak memasak doang. Kita hidup butuh orang yang selalu ada untuk kita, yang selalu support kita. Oleh karena itu ada yang namanya pernikahan. Kalau cuma sekedar tentang masak memasak, itu namanya nikah apa kontes masak? πŸ˜‚

      Joss banget, mbak. Kita memang punya niatan nikah sekali seumur hidup. Jadi memilih pasangan harus dengan bijak. Dan bertanggung jawab, bisa jadi pemimpin yang bijaksana, dan bisa jadi partner dalam suka dan duka merupakan suatu standar yang bagus untuk mencari pasangan.

      Delete
  3. Lama-lama juga nanti bisa masak mba, asal ada kemauan, kalo gak ada mah gampang, beli aja πŸ˜‚ kalo pengen masak yg ribet mah gampang jaman sekarang, di internet bnyk.

    Semua ciptaan tuhan itu ada awalnya, gak mungkin tiba-tiba langsung masak, perbandingannya itu kayak baru hamil 2 bulan tapi langsung ngarep anaknya brojol trus langsung bisa ngomong, yah kagak bisa juga. πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul juga ya mbak, masak bisa karena biasa.

      Alhamdulillah sekarang aku sudah bisa masak mbak yaitu masak air putih. Sekarang istri ngga komplen, ini air putih sudah matang apa belum, karena kalo udah mendidih berarti airnya sudah matang.🀭

      Delete
    2. @Mbak Rini: Iya nih, Mbak. Semua orang kan lahir dulu awalnya gak bisa apa-apa, setelah belajar baru deh bisa. Masak juga seperti itu awalnya gak bisa, tapi kalau belajar kan lama-lama juga bisa. Seharusnya standarnya cowok buat cari istri itu bukan yang bisa masak, tapi yang perempuan. Percuma bisa masak tapi laki-laki, ya gak bisa dijadiin istri juga.πŸ˜‚

      @Mas Agus: suatu kemampuan yang luar biasa sekali, mas Agus. Soalnya dulu aku pernah dimarahi gara-gara rebus air sampai airnya gak bersisa lagi alias menguap semuanya.πŸ™ˆ

      Delete
    3. Alhamdulillah, itulah hebatnya Agus mbak Roem. Mungkin kalo ada lomba masak air putih nanti aku bisa jadi jurinya.πŸ˜„

      Delete
    4. Saya dong mba, dulu levelnya lebih tinggi.

      Pancinya sampe gosong, air menguapnya mah lewaaat 🀣

      Delete
    5. @Mas Agus: Wah boleh tuh mas, buat ide lomba tujuh belas agustusan.πŸ˜†

      @Mbak Rini: Mbak Rini ini sungguh terlaluπŸ˜‚. Eh, tapi aku juga pernah begitu sekali, Mbak. Langsung kena omel ibu habis-habisan.😭

      Delete
  4. Wahahah sama mbak Roem kmrin aku juga sempet kepoin komen2nya. Ramai bgt yaa, hihihi
    Sepakat kl istri bukan babu, krna hakikatnya aku percaya 'perempuan' memiliki hak yg sama dengan 'laki-laki'. Capek nggak sih didiskriminasi mele wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaaaah, ternyata gak aku aja nih yang ngikutin komen-komen nya. Soalnya asik banget ya, Mbak Ella. Hehehe.

      Setuju banget, Mbak El. Kalau dipikir-pikir kita sebagai perempuan malah lebih hebat lagi. Kita punya otak buat mikir, tenaga buat kerja seperti layaknya laki-laki. Tapi ada yang kita bisa tapi laki-laki gak bisa. Iya, kita bisa hamil, mereka gak bisa. Seharusnya kita yang mendiskriminasi mereka, bukan mereka yang mendiskriminasi kita.πŸ˜‚

      Delete
  5. Mbak Roem, tenang.. aku sendiri suka ikut kepoin perdebatan warga Twitter kok πŸ˜† tapi sudah dua bulan ini aku off dari sana supaya meminimalkan aura-aura negatif di tengah pandemi ini hihi

    Benar sih, masak dan babu itu nggak ada hubungannya (pemilihan kata babu itu juga kok kayaknya gimana banget deh πŸ˜…), tapi bukan berarti pintar masak itu adalah kriteria wajib yang harus dimiliki seorang istri. Begitu juga sebaliknya, yang nggak bisa masak pun belum tentu dia istri yang nggak baik. Kalau gitu ceritanya, skill masak aku yang ala kadarnya ini apa kabarnya? πŸ˜†

    Kebetulan mertuaku itu jago masak dan sejujurnya sebagai menantu aku sempat minder. Suamiku yang udah biasa makan masakan ibunya ketemu aku yang masaknya beda style ini bakal cocok nggak ya. Ternyata sampai hari ini, suami nggak pernah nuntut aku harus masak yang gimana banget. Dia bilang udah dimasakin aja senang, kalau nggak bisa masak masakan tertentu ya tinggal minta tolong Mbak aja. Memang akhirnya sih aku belajar untuk masak beberapa makanan favorit suami. Pengen suami senang juga kalau aku bisa masak apa yang dia suka.

    Sering dengar kalimat ini: "Masak itu karena biasa". Kalo memang mau masak, ya diusahain aja dulu. Betul kata Mbak Rini, di mana ada kemauan di situ ada jalan hahahaha yang penting niat dulu aja.

    Thank youu udah sharing tentang ini, Mbak Roem. Nice writing! (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaampun, Mbak Jane. Sama. Aku juga begitu. Dulu sempat khawatir suami gak cocok sama masakanku karena masakanku dan masakan ibu mertua beda style. Suami sudah biasa makan masakan ibu mertua yang rasanya cenderung manis, sedangkan aku masaknya cenderung ke asin. Tapi Alhamdulillah ternyata suami gak pernah protes, makan juga selalu lahap. Dan karena merasa masakanku dihargai itulah yang bikin aku selalu semangat belajar masak. Selain supaya aku bisa nyenengin suami, juga supaya bisa memanjakan lidah sendiri. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  6. Wah, ternyata seru gitu debatnya...pantes dikepoin haha...

    Kalau kata "babu" itu nista dan berkonotasi negative, tentu saja saya tidak pernah rela, si "babu" ini yang akan berkreasi untuk santapan suami.
    Saya juga tidak pernah percaya "babu" yang akan memilih nilai gizi dan meracik makanan sehat untuk suami, termasuk untuk kesehatan "kejantanan" suami. NO WAY!!!

    Wonderful thought, mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Salah satu alasan kenapa gak rela disama-samain sama babu tuh ya gara-gara konotasinya negatif. Bahkan istilah itu dianggap kasar sehingga diperhalus dengan diganti dengan istilah ART.🀭

      Delete
  7. Wwwwkkkk ...
    Seriusan kak Roem demen lihat orang bertikai πŸ˜† ?.
    Kalo gitu, kenapa ngga jadi wasit tinju aja, kaaak .. hahaha ..

    Kalau aku nentuin kriteria pasamgan harus bisa gini gitu sih kok ngga, ya ..., yang penting sama-sama ikhlas jalani bersamaπŸ™‚.
    Makan enak ya disyukuri.
    Makan ngga enak kalo dia ngomel, ya kuomelin lagi ...,eh#πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau jadi wasit tinju ada kemungkinan kena tonjok juga, Mas Him. Lagian aku suka pertikaian bukan kekerasan. Eh, ada bedanya gak sih. πŸ˜‚

      Waaaaah, kasihan calon istrinya dong, Mas Him. Cewek-cewek yang naksir Mas Himawan langsung sembunyi semua nih gara-gara baca ini.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  8. Aku ngga punya akun Twitter mbak, soalnya malas ngurus banyak akun, cukup akun blogger, Facebook, dan shopee buat belanja istri.🀭

    Kalo soal debat, aku salah satu yang cukup suka juga terutama di grup Facebook, misalnya debat masalah capres tahun lalu.πŸ˜‚

    Eh, tapi aku cuma lihatin saja, paling malas komentar kalo debat, tapi anehnya suka kalo lihat banyak yang debat apalagi kalo sampai ribuan.🀣

    Btw, soal istri ngga bisa masak, aku rasa itu relatif ya. Soalnya kalo semua istri bisa masak, nanti warteg bisa sepi. Jadi untuk istri yang ngga bisa masak, tenang saja masih banyak warteg dan warung makan.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punyaku kok ngga dibalas.😭

      Delete
    2. Bukan nggak, mas. Tapi belum. Tadi lagi asik main Twitter soalnya. Memantau pertikaian apa yang sedang ada di sana. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Kalau masalah akun medsos sih aku ada ig, ada Twitter, ada blogger, ada Facebook. Tapi diantara semua itu yang paling jarang aku buka malah Facebook nya. Soalnya temen-temen kebanyakan sudah pada meninggalkan Facebook sih. Hehehe. Jadi lebih suka pakai of, dan Twitter (khusus buat memantau pertikaian).🀭

      Eh, tapi bener lho, mas. Kalau istri bisa masak atau gak sih relatif. Kalau pun gak bisa masak ya gakpapa. Kalau semuanya bisa masak ntar semua yang punya bisnis makanan sepi semua. Ngomong-ngomong lancar terus wartegnya ya, mas. Moga pelanggannya tambah banyak.πŸ™

      Delete
    3. Cup cup
      Cuci kaki, cuci tangan trus bobo yaaa πŸ˜‚


      Delete
    4. Oh pantesan kok jarang nongol di Facebook, ternyata teman temannya sudah pada pindah ke akun sebelah ya.

      Amin, semoga saja lancar wartegnya biarpun saat ini masih sepi soalnya banyak karyawan diliburkan atau di PHK akibat Corona.

      @Santuy, jangan lupa habis cuci kaki cuci tangan juga kumur kumur ya mbak.🀣

      Delete
    5. Yang sabar ya, mas. Soalnya semuanya juga merasakan hal yang sama. Sama-sama merasa gak enak setelah ada pandemi ini.😭

      Delete
  9. Sayangnya aku ga punya akun twitter mbak,jadi ga tau hebohnya kyk apa, tpi menurutku sih mmg gak wajib istri itu harus bisa masak, tapi kalo istri bisa masak ya bersyukurlah, lantas jadi istri jg jgn laju galon kalo ga bisa masak lantas menganggap dirinya babu, kesannya agak gmn gitu, emng sih sy juga rada sedikit sebel dengan ciwi" yg hnya pinter dandan thok, dan ogah kedapur krn takut kuku patah atau kotor, ya ga usah lebay juga, kalopun ga bisa masak, ya belajar kek, atau apa kek... Jadi dandan tetep cantik, masak juga ok walopun skill pas"an,intinya bisa karena biasa, padahal bangga loh walopun hnya bisa masak sayur bayem thok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, Mbak Hen. Aku juga merasakan banget dulu waktu pertama kali bisa masak. Saking bangganya sampai berhari-hari masak menu yang sama.πŸ˜‚

      Delete
  10. Paling enak debat di twitter tapi debatnya yang membangun bukannya yang mencaci maki, kalau yang mencaci maki atau mendiskreditkan orang mendingan buka grup facebook aja banyak banget tuh komentar yang asal komentar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Kal El, barusan aja aku nemuin orang yang komentar asal komentar di postinganku Facebook. Sungguh related banget ini, sih. Sepertinya benar, kebanyakan masyarakat Indonesia minat bacanya masih rendah. Masih suka salah fokus sama judul yang click bait, isi topik pembahasan yang sebenarnya apa sih mereka gak peduli.πŸ˜‚

      Delete
    2. Bukan sepertinya tapi kenyataannya masyarakat Indonesia minat bacanya memang sangat rendah makannya lebih banyak yang menonton YouTube daripada berkunjung ke blog atau portal berita dan yang lebih parahnya lagi channel yang ditonton bukan channel yang berisi ilmu pengetahuan tapi channel yang isi mencari sensasi. Betul banget kebanyakan hanya fokus sama judulnya aja dan ngga peduli dengan isinya kalau judulnya sensasional langsung di-like dan di-share padahal isinya hal yang sudah kadaluarsa atau hanya hoax semata atau malah tak terkait sama sekali dengan judulnya.

      Delete
    3. Setuju nih, mas. Gak heran masyarakat sekarang banyak banget yang kemakan hoax dan mudah diprovokasi.πŸ˜‚

      Delete
  11. Sama nih mba aku juga baru comeback main twitter,walaupun udh punya akunnya dari dulu. seru aja gitu main twitter banyak postingan lucunya hahaha.

    Kalau menurut saya sih, cewe itu emang seharusnya bisa masak mba. perihal enak atau tidaknya itu akan mengikuti seiring dengan seringnya dia mau mencoba. dan sebagai seorang suami jangan menuntut masakan bisa enak seperti masakan ibunya, karena kita gak bisa menuntut pasangan kita untuk sempurna. intinya saling menerima dan belajar bersama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, Mas. Asalkan suami selalu support pasti sedikit demi sedikit istri skill memasaknya meningkat. Lagian kebanyakan perempuan itu baru bisa masak pas sudah menikah lho, mas. Gara-gara saking sayangnya sama suami.πŸ˜†

      Delete
  12. Saya juga sempat membaca timeline itu
    Oh iya, follower twitier saja juga masih sedikit, dan saya juga senang scrol-scrol disana, hanya membaca saja. Buat hiburan
    Kalau membahas itu, pastinya ramai deh.
    Pada intinya semua itu perlu proses, kalau ingin pandai memasak juga butuh waktu.
    Kalau sudah terbiasa juga akan ahli sendiri.
    Untuk menjadi ayah, juga perlu waktu.
    Semua tidak simsalabin langsung istri pandai masak.
    Tapi tak apalah, biar ramai sesekali dibahas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, Mas Djangkaru. Asik soalnya bahas topik itu. Soalnya gak bakal ada habisnya. Tapi aku setuju banget sama Mas Djangkaru kalau semuanya itu butuh proses. Untuk menjadi istri dan ibu yang baik dan pintar masak itu butuh proses, begitu juga dengan menjadi suami dan ayah yang baik. Yang pasti sih sebaiknya menikah itu untuk saling tumbuh, saling berproses, saling menyayangi, saling mencintai, dan saling memberi, bukannya malah saling menuntut.πŸ˜„

      Delete
  13. qiqiqiqiqiqiqi, itu laki ye, jarinya kek cewek kalau lagi nyinyir :D
    Kalau saya cuek aja sih, mungkin dia lagi menghibur diri, soalnya naksir cewek tapi ditolak bahahahahaha.
    Kalau saya sih, mending jauhin pasangan aneh kayak gini.
    Tapi kalau pun terlanjur nikah, tentu saja saya mau belajar masak.
    Masak itu gampil kok, cukup kebiasaan aja, lama-lama jadi bisa dengan sendirinya.

    Ah itu mah kecil, mari kita belajar masak, abis itu kita tuntut dia!
    Etdaahhhh anak bawang, minta disenengin masak, tapi nafkahi bahkan beli pembalut bersayap kagak bisa, bisanya yang nggak bersayap.

    Nyari duit kok gitu aja, kalah ama cewek, gitu kok ya somplak banget! sok-sok an minta disenengin dengan masak.
    Noh nikahin chef biar disenengin dengan masak mulu.
    Eh bentar lupa, chef nya ogaahh nikah ama laki nyinyir kagak modal kayak dia ya.

    Gimana? udah pas nggak?
    Astagfirullahhhh, si mamak Rey, puasa-puasa nyinyirnya paraahhh wakakakakakakak

    Emang twitter itu tempatnya orang aneh-aneh ya, makanya saya jarang aktif di sana, bikin pala pusing beybeh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaampun, Mbak Rey. Ngakak aku. Aku pikir kalau terlanjur nikah sama cowok kyk gitu endingnya bakal nurutin aja apa maunya. Ternyata akhir-akhirnya tetap dituntut balik. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Kadang sebel juga sih, Mbak Rey. Kalau ada cowok yang banyak maunya tapi gak kasih timbal balik yang setimpal ke istrinya. Kata sesepuh kan menikah itu tentang saling memberi, bukan saling menuntut.🀭

      Delete
    2. nah itu dia!
      Saling!
      Tapi yang baik-baik.
      Akan lebih baik lagi kalau kita sama-sama berlomba memperbaiki diri, malu kalau masih banyak nuntut tapi nggak bisa kasih apa-apa :D

      Delete
    3. Bener banget, Mbak Rey. 😊

      Delete
  14. Cara menemukan kiriman twitter yang lagi viral itu gimana sih?
    Saya malah udah punya akun dari dulu tapi gak tahu cara pakainya haha
    Masak itu skill survive, wanita atau pria harus sama-sama bisa
    Gak perlu jago kayak koki yang penting makanan layak dikonsumsi
    Saya pernah ada di posisi diperlakukan kayak babu, yaitu ketika saya ngerjain semua tugas rumah tangga tapi giliran minta dibeliin skincare sebulan sekali gak dikasih
    Dari situ saya sadar bahwa suami istri harus tetap punya penghasilan masing-masing, karena suami belum tentu mau mengabulkan permintaan istri yang bukan termasuk kebutuhan pokok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku biasanya gak sengaja nemu pas scroll di home sih, Mbak. Tapi kalau niat kepoin yang sedang viral tinggal klik search, Mbak. Nanti ada list yang lagi trending.πŸ™ˆ

      Setuju banget aku, Mbak Dewi. Sebaiknya istri juga punya skill untuk cari uang sendiri. Soalnya belum tentu suami mengabulkan permintaan istri yang bukan kebutuhan pokok. Ironis banget sih, istri dituntut harus bisa ini itu oleh suami. Waktu istri minta sedikit aja untuk memanjakan diri yang udah capek-capek ngurus rumah tangga, eh gak dituruti.😟

      Delete
    2. hahahah tenanggg, yang aneh-aneh pasti trending yak.
      Itu juga si penjual keperawanan, semua shock.
      Bukan shock karena dia nekat jual keperawanan, tapi shock karena nggak ada yang percaya tentang itu bahahaha *astagaaaahhh kutetap nyinyiiirrrr hahahaha

      Sumpah beneran ya pengaruh buruk twitter itu :D

      Delete
    3. Eh, aku juga baru tau tentang ini dari Twitter lho, Mbak Rey. Tapi ya biasa aja sih. "Heleh, paling juga lagi pansos tuh" begitu pikirku.πŸ˜‚

      Delete
    4. hahaha iyaaa, dia nggak bertahan lama, udah langsung tenggelam, sungguh cuman bikin malu dirinya aja hahaha

      Delete
  15. Pernikahan atau menempuh hidup baru bukan berarti harus bisa masak atau tidak.😊😊

    Jadi orang berumah tangga intinya saling memberi dan menerima kekurangan masing2...😊😊


    Banyak kok pasangan muda sekarang istrinya tak bisa memasak, nggak mau ribet yaa tinggal beli..😊😊


    Jadi hal yang aneh bercerai cuma karena istri tak bisa masak....🀣🀣🀣🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, Mas Satria. Hari gini gitu lho, mas. Kalau cuma menuntut istri harus bisa masak tuh seolah-olah suami gak menghargai potensi yang sudah dipunyai istri. Oke istri gak bisa masak, tapi cerdas, pintar cari uang dan mengelolanya, penyabar, penyayang. Masa iya suami tutup mata atas potensi-potensi baik itu cuma gara-gara istri gak bisa masak. 🀣🀣🀣

      Delete
    2. Betul sekaliiii, yang aneh itu cerai gara-gara istri nggak bisa masak, aneh bin ajaib hahahaha

      Delete
  16. Good masak nggak masak asal bahagia dan bahagia kita yang merasakan.Jangan dengar kata mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget nih, mas. Yang penting kita-kita bahagia. Kalau ada nada-nada sumbang sih cuekin aja kali ya.:-)

      Delete
  17. Waaaah klo syaratnya istri harus bisa masak, aku udh kalah di babak pertama :p.

    Bersyukur suamiku bisa Nerima aku yg ga bisa masak ini, dan paling ga suka ngelakuin pekerjaan yg ada hubungan Ama detergen:p. Buat dia sbnrnya yg penting istrinya di rumah mau perhatian Ama anak2. Udh itu aja. Karena toh urusan rumah tangga ada ART. Anak2 memang dikasih babysitter, tapi suami minta aku ttp merhatiin mereka dari sisi pelajaran dan nyediain waktu utk main2 stiap hari.

    Ga ptg buat dia aku terjun ke dapur, Krn dia tau aku ga terbiasa Ama begitu. Makanya sjk awal mau nikah, yg dilakuin pak suami cari asisten dulu utk bantu di rumah :D.

    Kasian sih Ama istri yg punya suami tp pikirannya masih seperti di atas, yg berfikir istri hrs bisa masak, baru jd istri idaman. Aaplagi pake nuntut istri hrs serba bisa dan kalo bisa tanpa art. Waduuuh, aku rasa2nya bisa perang dunia trus kalo ketemu suami begitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget Mbak Fanny. Kasihan banget istri yang dapat suami seperti itu. Bagaikan semua kualitas dirinya dipandang sebelah mata cuma gara-gara masalah masak-memasak doang.😭

      Delete
  18. Menurutku seorang suami atau istri ideal itu ketika keduanya bisa saling mengisi dalam suka dan duka. Cieeee... bahasanya dramatis banget ya Kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, tapi aku setuju lho. Menikah itu kan saling memberi, saling menyayangi, bukan malah saling menuntut.:-)

      Delete
  19. ih laki2 gitu mah gak ada di kamus aku, nah aku mah suak dengan laki2 yang mau melihat istrinya berkembang bersama, pintar , cerdas dan punya kegiatan yang bermanfaat. kalau pintar apa saja bisa dilakukan termasuk masak. masak bareng suami itu menyenangkan banget daripada nuntut istri bisa masak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, Mbak Tira. Kan dengan masak bareng sama suami bisa menciptakan suasana romantis juga ya, Mbak. Macam drama Korea gituuu🀭. Sebaliknya kalau suami cuma bisa nuntut-nuntut istri doang kan rasanya nyebelin banget.πŸ˜…

      Delete
  20. Saya sama istri gak ribet rumah tangganya. Cukup ayo berjuang bersama, saling setia, dan nanti sama2 husnul khatimah.

    Saya justru yang tukang masak di rumah, istri hampir gak bisa masak. Gak masalah buat kami. Bahkan istri saya sering ngritik hasil masakan saya, dan saya berusaha memperbaiki cara masak saya biar sesuai selera bersama. Saya hobi masak dan pernah jualan juga.

    Kami ganti2 ngerjain tugas rumah tangga dari belanja, nyuci, nyapu, ngepel, dll. Kami enjoy tapi orang lain yang gelisah. Misal: laki2 kok njemur, laki2 kok belanja gak kebalik tuh, atau kamu belajar masak dong jangan suamimu yang masak terus.

    Biasanya saya cuekin. Kalo kebangetan baru saya tegur orangnya. Soalnya rumah tangga saya ya saya yang berhak ngatur.

    Wanita gak bisa masak gpp kok. Bisa jadi takdirnya dapat suami yang punya restoran. Laki2 gak bisa benerin genteng bocor juga gpp, mungkin takdirnya bakal punya tetangga kurang mampu yang kerjanya serabutan.

    Lagian kenapa ribet, kita sekarang hidup di jaman yang kenikmatan serba dibuka sama Allah. Mau beli makanan banyak yang jual.

    Kita bisa beli gudeg tanpa harus ke Jogja, bisa makan rendang tanpa harus ke Sumatera. Jaman kuno dulu meski kita jadi raja sekalipun, mau makan yang aneh2 juga harus sabar dicariin sama hulubalangnya dulu yang belum tentu seminggu udah balik dari pencariannya. Mau ke luar kota juga naik kereta gak enak banget di pantat, mana kalau panas gak ada ac nya kaya di mobil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntung banget istrinya mas ini. Soalnya di luar sana malah banyak yang sebaliknya. Suami hanya menuntut ini itu ke istrinya. Sementara istri harus menurut, mau minta sesuatu gak dibolehin, mau kasih saran atau mengingatkan malah dimarahi balik, kalaupun istri bekerja diluar masih juga dituntut beberes rumah tangga (itu juga gak dibantuin sama sekali sama sang suami). Sedangkan suami, capek kerja ya langsung tidur. Miris banget ya kebanyakan istri di luar sana, mas. Cuma dibuat temen tidur doang. Makanya banyak perempuan yang belum menikah sekarang juga ingin dihargai otaknya dan segala potensinya. Apa gunanya menikah kalau merasa terkungkung dan tidak dihargai sama sekali.

      Aku setuju banget, mas. Nikah itu untuk saling berjuang bersama, setia bersama, tumbuh bersama dalam membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Sebenarnya perempuan gak bisa masak gakpapa kok. Banyak solusi untuk masalah itu. Bisa dengan sewa ART atau beli makanan matang. Kalaupun gak sanggup, dan kebetulan istri banyak waktu di rumah ya bisa belajar memasak. Jadi menurutku kalau laki-laki cari istri yang bisa masak, itu termasuk laki-laki yang dangkal pikirannya. Menikah itu lebih kompleks kalau cuma dibandingkan dengan urusan perut aja.

      Delete
  21. Kalau tuntutannya masak sekelas chef ya berlebihan lah.

    Ya saling ngertiin aja. Waktu sebelum nikah, istriku ga bisa masak, sekarang udah pinter aja masak.
    Aku ngasi dia kebebasan bereksperimen, dengan aku sebagai mentor, tester dan juri. Kebetulan sejak kecil aku udah diajarin masak sama ibu. Kami sekeluarga baik laki maupun perempuan harus punya skill memasak minimal. Ya minimal mengenali bumbu dapur, masak sayur sederhana, goreng telur, masak nasi, pokoknya untuk bertahan hidup. Soalnya kalau lagi ga punya duit, memasak adalah solusi murah. 1x beli makanan jadi bisa buat makan 2x bahkan 3x soalnya.

    Namanya rumah tangga seharusnya ga boleh terlalu kaku. Semua hal adalah hak dan kewajiban bersama. Saya pun kalau istri lagi repot ngurus anak, ya saya yang masak kok. :)

    Bagi saya, lelaki yang terlalu menuntut istri berlebihan itu ga baik. Begitu juga istri yang bebal terhadap permintaan (yang tidak berlebihan) suami, juga ga baik. Tapi setiap rumah tangga punya aturan dan kesepakatan sendiri, kalau suaminya ok ART-nya yang masak, ya ga masalah.

    Saranku sih buat cewek, ya ga usah masak sampe ahli banget lah, tapi setidaknya nggak alergi sama kompor, panci, wajan dan bumbu dapur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mas. Memasak itu adalah kemampuan dasar untuk bertahan hidup. Jadi seharusnya dikait-kaitkan dengan perempuan, karena sebenarnya laki-laki pun juga sama. Dan sebenarnya gakpapa juga kalau perempuan gak bisa masak. Nanti juga bisa sendiri. Toh kebanyakan perempuan baru bisa memasak setelah menikah. Istrinya mas salah satunya.

      Setuju banget, mas. Walaupun awalnya gak bisa masak, tapi setidaknya jangan alergi sama semua perangkat dapur. Gak bisa masak gakpapa, asal jangan malas dan manja. Kalau gak bisa masak, masih bisa belajar. Tapi kalau malas dan manja, duh cuma bisa nonton infotainment doang tuh bakalan.πŸ˜‚

      Delete
  22. hari gini ada yang namanya go food dan go -clean , go laundry
    jadi gk perlu repot

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi disesuaikan dengan kantong juga ya, mas.πŸ˜‚

      Delete
  23. Sebenarnya harus diartikan dulu nih kata "bisa masak" artinya ya asal bisa masak tapi gak ekspert atau ahli dalam masak-memasak? Gak mungkin kan ada orang yang sama sekali gak bisa masak walau sekedar telor ceplok? Kecuali yang dari lahir sudah kaya sih ya.

    Masih ingat dulu, waktu masih remaja lalu lanjut kuliah aku suka bilang di sosial media, "Cari istri gak perlu pintar masak, aku cari pasangan hidup bukan babu". Tujuannya ya biar dibilang cowok keren di depan cewek. Dan pikiranku saat itu belum luas, belum tau arti perjuangan hidup cari uang.

    Dan sekarang alhamdulillah aku dapat istri yang jago masak, alhamdulillah dengan kemampuan istri ini keuangan kami terselamatkan. Ya kadang kalo aku ga cape ganti aku yang masak, meski cuma bisa masak telor dan nasi goreng istri sudah seneng. Tak jarang aku suruh beli matengan aja (masakan lauk dan sayur yang sudah matang).

    Sempat terpikir, andai dulu aku jadi menikah dengan wanita yang gak bisa masak dengan penghasilanku yang seperti sekarang, gimana? Belum popok dan susu anak, belum cicilan ini itu, listrik, air dan internet. Harus beli makan tiap hari atau harus bayar ART tiap bulannya.

    Menurutku sih ya, lelaki yang bilang perempuan gak harus bisa masak sih ada beberapa kemungkinan (arti gak bisa masak disini ya sama sekali gak bisa masak, bahkan telor ceplok atau telor dadar aja gak bisa).

    1. Lelaki yang super baik, bersyukurlah punya suami macam ini.
    2. Lelali yang pintar masak
    3. Lelaki yang sedang mengejar wanita.
    4. Lelaki yang penghasilannya sudah tinggi.

    ReplyDelete
  24. Sebenarnya harus diartikan dulu nih kata "bisa masak" artinya ya asal bisa masak tapi gak ekspert atau ahli dalam masak-memasak? Gak mungkin kan ada orang yang sama sekali gak bisa masak walau sekedar telor ceplok? Kecuali yang dari lahir sudah kaya sih ya.

    Masih ingat dulu, waktu masih remaja lalu lanjut kuliah aku suka bilang di sosial media, "Cari istri gak perlu pintar masak, aku cari pasangan hidup bukan babu". Tujuannya ya biar dibilang cowok keren di depan cewek. Dan pikiranku saat itu belum luas, belum tau arti perjuangan hidup cari uang.

    Dan sekarang alhamdulillah aku dapat istri yang jago masak, alhamdulillah dengan kemampuan istri ini keuangan kami terselamatkan. Ya kadang kalo aku ga cape ganti aku yang masak, meski cuma bisa masak telor dan nasi goreng istri sudah seneng. Tak jarang aku suruh beli matengan aja (masakan lauk dan sayur yang sudah matang).

    Sempat terpikir, andai dulu aku jadi menikah dengan wanita yang gak bisa masak dengan penghasilanku yang seperti sekarang, gimana? Belum popok dan susu anak, belum cicilan ini itu, listrik, air dan internet. Harus beli makan tiap hari atau harus bayar ART tiap bulannya.

    Menurutku sih ya, lelaki yang bilang perempuan gak harus bisa masak sih ada beberapa kemungkinan (arti gak bisa masak disini ya sama sekali gak bisa masak, bahkan telor ceplok atau telor dadar aja gak bisa).

    1. Lelaki yang super baik, bersyukurlah punya suami macam ini.
    2. Lelali yang pintar masak
    3. Lelaki yang sedang mengejar wanita.
    4. Lelaki yang penghasilannya sudah tinggi.

    Tambahan: Kata "tidak bisa masak" ini memang harus dipersempit pengartian katanya, gak perlu diartikan dengan wawasan luas yang terlalu jauh (kalau terlalu jauh ya bakal jadi perdebatan). Tidak bisa masak ya artinya sama sekali gak bisa masak titik. Ya kalau bisa masak tapi gak enak, artinya bisa masak. Masih bisa diusahakan buat jadi enak kok.

    Tapi kalau masih ada lelaki yang bertemu wanita yang bisa masak alakadarnya dan masih di-paidho, di-celathu. Yo rabio wae karo empon-empon (Jawa: Ya nikahlah saja sama bumbu dapur).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, jangan salah. Banyak lho wanita yang baru bisa masak saat sudah menikah. Jadi jangan samakan yang gak bisa masak itu dengan orang malas, ya. Bisa jadi memang dia ngejar sekolah setinggi mungkin, pulang kuliah/sekolah langsung ikut kegiatan organisasi, lulus langsung kerja, jadi belum ada waktu untuk belajar masak. πŸ˜„

      Delete
  25. aku baca juga twit ini di timelineku, twitter tu emang seru bgt buat mencari keributan, banyak hal2 unik yg mengundang keributan... dan aku bagian tukang bacain komen2 orang aja hahaha..

    kalau istri idaman menurutku adalah istriku sendiri hihi..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita setipe nih, mas. Aku juga suka banget baca-baca komennya. Tapi males ikut-ikutan nimbrung komen.πŸ™ˆ

      Bener banget, mas. Kalau istri idaman memang seharusnya istri sendiri. Kalau istri idamannya istri tetangga percuma, cuma diidam-idamkan doang gak bisa dimiliki.πŸ˜‚

      Delete
  26. Wahhh asik nih punya twitter baru heheh, bisa ditambahin di kolom sidebarnya tuh kak twitternya biar enak kalau mau follow followan :D, yang di sidebar blog ini baru ada facebook dan instagram.. Tapi yang instagram ak belum di follback huwaaaa :( (masih nunggu polbekannya :D)

    -- Kalau bicara soal istri harus bisa masak seperti gak harus harus banget.. Tapi setidaknya bisa masak, walaupun cuma beberapa aja. Bahkan malah ada yang suami jago masak juga kan, yang penting saling melengkapi aja lah.. Kalau lagi nda masak ya bisa jalan jalan keluar cari tempat makan bareng bersama dengan keluar.. Toh dengan jalan jalan bareng juga bisa menjadi salah satu cara untuk memberikan rasa nyaman, kebahagian didalam keluarga.

    Memberikan kebahagian ke keluarga memang banyak macemnya, bukan cuma masak aja. Setuju bngt sma kk masak itu cuma salah satunya. TERAKHIR TERAKHIR, kalau untuk standar istri buat aku sih ya setia, penuh dengan kasih sayang, sering mandi, bersih, pengertian, bisa masak, cerewet dalam artian gak diem dieman, bisa diajak cerita ngobrol bareng, dan masih banyak lagi hahahah.. (banyak maunya) --langka nih cewe kek gini :D, dan untuk bisa mendapatkannya perjuangannya harus super giat hha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya aku gak ngerti caranya pasang di sidebar, mas. Duh, ketahuan deh kalau aku ini kudet banget. Hehehe.πŸ™ˆ

      Yang Instagram sudah aku follback lama, mas. Cuma ya gitu. Gak pernah komen, gak pernah dm, hanya sesekali kalau ada story nya mas Andri aku lihat, atau kalau pas buka ig pas ada feednya mas Andri yang nongol di timeline gitu aku like. Maklum, ig cuma buat stalking diskonan. πŸ˜‚

      Waduh, oke punya nih istri idamannya mas Andri. Cuma yang oke gini jumlahnya agak lebih sedikit, mas, bibit unggul soalnya. Hehehe. Tapi gakpapa. Mudah-mudahan bisa dipertemukan dengan calon istri seperti yang mas Andri idam-idamkan ya. πŸ˜†

      Delete
    2. Wahhh kalo aku liat dari tampilanya, kayaknya itu widget yang tinggal nambahin aja hehe.. Inikan blogger kan ya. Ini stepnya : Login ke blogger.com -> terus pilih menu tata letak -> terus cari deh tulisan " Follow us " disekitaran tata letaknya itu.. -> terus edit -> tinggal ngikutin deh sama yang diatasnya (tambahin twitter sama link twitternya. -> kalo udah bener tinggal simpan :D. Terus lihat deh di blognya udah ketambah belom twitternya..

      Hahaha soal ig juga jarang liat sih mba, gatau kalo udah di polbek.. Pokoknya terakhir aku follow gitu hha.. Kalo soal fungsi buat ig sih sama, kalo mba buat diskon aku buat cari hiburan aja yang lucu lucu :D

      Amin amin amin.. Hihi piss :v

      Delete
    3. Yaampun, Mas Andriiii. Makasih banget infonya. Sudah aku coba dan ternyata sudah berhasil tambahkan akun Twitter nya. Aku jadi terharuuuu.πŸ˜„

      Delete
  27. Saya juga belajar masak lo mba karena gk pengen menjadikan istri sekedar juru masak.
    Dan keahlian saya nomor 1 tentu saja masak air. Gak pernah gosong. suer

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Bang Day lebih jago nih masak air daripada aku. Soalnya aku dulu masih pernah masak air sampai nyaris gosong nih, bang.πŸ˜‚

      Delete
  28. Huhuhuuu, kemarin lihat twit ini lewat di timeline, lumayan bikin gatal. Separuh karena ngerti maksudnya si mas itu, tapi bete karena cara menyampaikannya kok kasar betul.

    Suami saya termasuk orang konservatif dan punya Ibu yang pinter masak. Jadi jelas, Dia maunya dimasakin istri, apalagi 10 tahun terakhir tinggal sendiri di kosan hahaha. Sementara saya sendiri adalah that-so-called perempuan modern yang menganggap masak itu urusan berdua yang harus kerjasama, karena dulu lihat ibu saya capek banget mengurus semuanya sendiri.

    Perspektif suami saya ya betul: memasak ya bentuk menyenangkan keluarga. Tapi memang hanya salah satu, seperti kata mbak roem. Salah satunya, tapi yang utama, itu kalau menurut suami saya. Jadi ya harus bisa masak. Sementara saya mikir, masih ada faktor lain (selain masak) untuk menyenangkan suami.

    Tapi sesungguhnya, saya juga masih bingung seperti apa upaya menyenangkan keluarga ini. Soalnya masih kerasa banget kok, saya misuh-misuh kalo diminta sesuatu. Hehehe, bawaannya ngerjain apa-apa sendiri dan anak pertama, jadi ketika disuruh ini-itu, ego saya memberontak wahahaha. Merasa dibabu-kan. merasa nggak disenangkan.

    Padahal ya bener, menyenangkan suami itu pahala toh, kalo dilakukan dengan ridho? Termasuk belajar masak biar rasanya lebih enak. Suami juga minta tolong ke kita karena ya maunya sama kita, istrinya, bukan sama babu.

    Lha, jadi curhat. gapapa udah biasa. Topiknya menarik dan relatable sih, jadinya gatel curhat dan komennya jadi ngalor ngidul (eh). Mohon maaf lahir batin ya Mbak Roem. Senang bisa main lagi ke blog ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama ya, Mbak Mega. Mohon maaf lahir dan batin juga. Btw terimakasih sudah mampir ya, Mbak.

      Iya, Mbak. Awal-awal aku tau twit-nya ngerti banget maksudnya doi apa. Tapi gemes banget soalnya menurutku cara penyampaiannya agak kurang pantas dan ada bagian yang melecehkan perempuannya juga. Aku kan jadinya ikut geram.πŸ™ˆ

      Kalau menurutku sih, memang capek banget kalau istri melakukan semuanya sendiri. Ngerjain semua urusan rumah tangga sendiri, ngurus anak sendiri, apalagi harus kerja di luar rumah pula. Duh, pasti capek banget tuh. Kalau memang terjadi seperti itu sih, paling enak kalau suami bantu dikit-dikit. Gak usah yang berat-berat, cukup mau cuci piring bekas makannya aja udah bisa bikin hati berbunga-bunga.🀭

      Delete
  29. Ini pembahasan yg sangat menarik mba. Suamiku ga bisa benerin genteng nih, hehehe. Sama, akupun tidak bisa masak, kalau cuma masak nasi, air, mie instan insha Allah bisa. Hihihi. Bagiku nikah bukan hanya sekadar bisa masak dan bahkan maaf bisa punya anak. Sedih aku tuh kalau ada yg beranggapan habis menikah istri harus bisa hamil. Padahal banyak faktor pasutri ga punya anak selain faktor istri. Bisa jadi itu takdir pasangan tersebut. Karena aku kebetulan belum punya anak. Jadi menurutku menikah itu adalah menerima apa adanya pasangan kita, menjadi nyaman dalam kehidupan pernikahan setelahnya. Dan itu semua tergantung penerimaan suami aja sih kepada istrinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, Mbak Maria. Intinya kita menikah kan untuk membina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah bersama. Jika semuanya hanya dipenuhi dengan tuntutan saja pastinya menjalani kehidupan rumah tangga menjadi gak nyaman banget. Jadi memang saling memahami dan saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan memanglah yang terbaik, Mbak.

      Delete
  30. kok ikut tersulut yaa.. wakakak..

    gak bisa masak bukan berarti cewek cuman bisa "ngangkang" doang lah ���� dikira kerjaan cuman masak doang kali.

    kan ada tuh yg namanya nyuci, nyapu, ngepel, ngurus anak dan lain-lain yang mana kerjaan ga ada abisnya deh kalo dirumah..

    ett dah, ini yang ngetwitt udah nikah belum sih? ��

    namanya pasutri pasti ada kelebihan dan kekurangannya.. yg penting bisa saling melengkapi dan bahagiak tentunya ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh kan, Mbak Thya. Memang Mas Uye ini punya bakat menyulut emosi kita-kita sebagai wanita.

      Tapi kita tetap harus berprasangka baik sama Mas Uye. Bisa jadi doi sakit hati, cintanya baru ditolak cewek. Moga aja kelak doi dipertemukan dengan seorang calon istri yang amat sangat pandai memasak.🀭

      Delete
  31. Saya termasuk kaum hawa yang nggak pinter masak nih he..he...😁, sama kayak mbk roem saya bisanya masak makanan faforit saya aja dan karena saya sukanya makanan pedes jadi semua makanan yang saya masak pasti pedes semua.
    Kayaknya twitnya mas uye... Itu nikin jengkel banyak orang ya. Harusnya kalau mau mengeluarkan keluh kesah kayak gitu nggak usah di medsos. Sama temen aja, atau kalau temennya ember, sama Allah aja malah lebih bener.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita sama, Mbak Astri. Aku juga suka banget makan makanan pedes. Masak pun suka yang pedes-pedes. Tapi setelah menikah harus rela masak yang gak pedes, soalnya suami gak bisa makan pedes. Kalau kepedesen suka berakhir mencret di kamar mandi.πŸ˜‚

      Setuju banget, Mbak Astri. Lebih baik curhat ke temen aja. Kalaupun takut temennya ember, mending sama Allah aja. Selain sambil ibadah, bisa juga supaya bisa cepet-cepet dapet jodoh.😁

      Delete
  32. Dari awal nikah , suamiku udh tau aku tipe yg ga bisa masak :D. Tp dia tetep mau Nerima Krn menurutnya istri itu temen hidup, harus bisa diterima apapun kekurangan dan kelebihannya . Toh dia prnh bilang dulu, kalo dia lebih suka istrinya fokus Ama pendidikan anak2, drpd hanya sekedar ngurusin dapur. Dapur itu bisa dihandle Ama ART. So, itu yg aku lakuin. Apalagi sejak resign,waktuku lebih banyak luang juga mba. Kesempatan untuk LBH merhatiin keluarga dr sisi pendidikan anak2 :).

    Tapi bukan berarti aku ga pengen belajar masak. Justru suka nyari2 resep yg gampang2 aja,dan eksekusi sesekali. Walopun kadang aku minta asistenku yg ngerjain :) . Dia tangannya lebih dingin dr aku, resep2 baru biasanya sukses kalo dia yg bikin hahahahah.

    Penulis Twitter yg bilang statement di atas, menurutku agak kasar sih yaa. Lebih berkesan egois dan ga mau dibantah. Makanya banyak yg kurang setuju Ama yg dia tulis :D.

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi. Jadi mohon maaf sekali apabila komentar yang tidak sopan, mengandung kata kasar, menyinggung SARA, spam, dan yang berisi link hidup terpaksa tidak saya terbitkan. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.πŸ˜„