Problematika Kerja Wanita Pasca Berumah Tangga

by - February 05, 2020


Assalamu'alaikum.

Semua orang setuju bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan berada pada perbedaan fisik dan pola pikir, laki-laki cenderung logis dan perempuan cenderung emosional alias lebih mementingkan perasaan daripada logika. Tapi selain hal-hal itu laki-laki dan perempuan pada dasarnya sama.

Ketika lahir procot bayi laki-laki langsung menangis kencang, begitu juga dengan bayi perempuan. Anak laki-laki dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orangtuanya, begitu juga dengan anak perempuan. Laki-laki diberikan hak menempuh pendidikan wajib 12 tahun oleh pemerintah, begitu juga dengan perempuan. Setelah lulus sekolah, laki-laki diberikan kebebasan memilih melanjutkan kuliah atau langsung bekerja, begitu juga dengan perempuan. Sampai pada masa ini antara laki-laki dan perempuan masih memiliki pilihannya sendiri-sendiri sesuai dengan keinginannya.

Ketika laki-laki sudah berevolusi menjadi pria dan perempuan menjadi wanita mulai ada hasrat untuk menikah dan membangunkan rumah tangga. Di fase inilah pria dan wanita menjadi berbeda. Pria yang memiliki kodrat sebagai kepala keluarga dan memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya tentu saja pria tidak memiliki pilihan lain selain terus bekerja sebaik-baiknya untuk bisa membawa pulang uang sebanyak-banyaknya. Berbeda dengan wanita. Pasca berumah tangga, wanita mengalami suatu problematika. Wanita mengalami suatu dilema di antara dua pilihan: menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir? Tentu saja setiap pilihan itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


IBU RUMAH TANGGA (IRT)
Gambar: www.pexels.com
Ibu rumah tangga adalah suatu pekerjaan bagi wanita untuk mengurus rumah tangganya. Walaupun nampak sederhana, tapi pekerjaan IRT ini sebenarnya begitu padat. Dimulai dari belanja di pasar, memasak, bebersih rumah, bebersih kamar mandi, merawat kebun, mencuci pakaian, setrika, melayani suami, mengelola keuangan rumah tangga dan segala macam bentuk pekerjaan rumah tangga lainnya. Apalagi kalau sudah ada anak, pekerjaan semakin tidak ada habisnya. Ketika anak masih kecil, pekerjaan wanita sebagai IRT bertambah dengan ngemong anak, memandikan anak, menemani anak bermain, dan mendidik anak. Ketika anaknya sudah mulai besar mungkin pekerjaan IRT yang sebelumnya memandikan anak dan menemani anak bermain berubah menjadi guru les fisika dan matematika pribadi sang anak.

Di balik pekerjaan IRT yang tak ada habisnya, tentu IRT akan merasa sangat bahagia ketika melihat anak dan suaminya selalu menghabiskan makanannya dengan sangat lahap, rumah bersih dan nyaman ditempati, anak dan suami selalu bisa tidur malam dengan nyenyak, anak dan suami senantiasa sehat selalu, anak-anak tumbuh dengan baik dan menjadi anak-anak yang berprestasi di luar rumah. Namun sayangnya, ketika wanita memilih menjadi IRT penuh waktu, wanita tidak bisa memperoleh gaji dari pekerjaan yang dilakoninya. Bukan hanya itu, IRT tak jarang menjadi sosok yang tidak dianggap keberadaannya, menjadi sosok yang marginal dan ada kalanya diremehkan oleh beberapa oknum di kalangan keluarga besar, teman, tetangga, atau juga warga net nyinyir.

"Enak ya, jadi IRT. Duit tinggal minta suami, gak usah susah-susah kerja cari duit," begitu salah satu nada sumbang dari mereka. 

Padahal IRT juga merupakan salah satu jenis pekerjaan. Gak percaya? Coba pinjam KTP ibu, saudara perempuan, sepupu perempuan, atau tetangga perempuan kalian yang merupakan IRT. Pasti di kolom pekerjaan tertulis "mengurus rumah tangga", bukan pengangguran. Itu menandakan negara pun mengakui bahwa IRT adalah suatu pekerjaan, bukan hanya ongkang-ongkang kaki sambil minta duit ke suami. Emang IRT itu preman, hah? Memang benar sih, duit datang dari suami. Tapi kan duitnya juga hak istri, sebagaimana kewajiban suami memberikan nafkah kepada istri. Mungkin oknum-oknum itu gak pernah menjadi IRT atau bisa-bisa yang bilang seperti itu malah bukan wanita.

WANITA KARIR
Gambar: www.pexels.com
Ada kalanya wanita harus memilih untuk bekerja di luar rumah sebagai wanita karir. Di luar rumah, wanita bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatkan dulu waktu masih pendidikan ke lingkungan kerjanya. Dengan menjadi wanita karir, wanita bisa mengekspresikan dirinya sebagai wanita yang tangguh dan mampu bersaing di dunia kerja. Dan dengan menjadi wanita karir, wanita bisa mendapatkan uang dengan tangannya sendiri.

Menjadi wanita karir juga merupakan suatu pilihan yang mulia. Dengan begitu wanita bisa membantu suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, ada hal yang harus dikorbankan ketika wanita memilih pilihan mulia ini. Waktu bersama suami dan anak bisa berkurang. Wanita karir tak jarang harus merelakan berpisah dengan anaknya yang masih bayi dan masih lucu-lucunya, untuk memenuhi kewajibannya sebagai wanita karir. Apalagi ketika tahu anaknya sedang sakit di rumah, perasaan wanita karir pasti tidak karuan, pikirannya pasti tidak bisa fokus ke kerjaan. 

Tidak ada wanita yang tidak sayang anaknya. Berpisah dengan anak untuk kewajibannya bekerja merupakan pengorbanan yang sangat besar. Tapi ternyata masih ada saja yang nyiyir. Katanya, "Egois banget, sih. Gak peduli sama keadaan anak dan suami." Mereka gak tau kalau terkadang wanita karir bekerja untuk membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga dan memenuhi kebutuhan anak yang semakin bertumbuh besar kebutuhannya juga semakin membutuhkan banyak uang.

***
Apapun pilihan yang diambil oleh wanita pasca berumah tangga, entah itu menjadi IRT atau menjadi wanita karir merupakan hasil rundingan dari si wanita dengan suaminya. Di antara keduanya tidak ada yang mana pekerjaan yang terbaik bagi semua wanita. Berbeda kondisi rumah tangga wanita, berbeda pula pilihan terbaiknya menjadi apa. Jadi tolong, jangan hakimi pilihan yang sudah dipilih dan dipikirkan matang-matang oleh wanita dan keluarganya. Insyaallah, pilihan yang sudah diambil adalah pilihan terbaik bagi setiap wanita dan terbaik bagi keluarga.

Para wanita juga harus paham. Apapun pilihan pekerjaan yang diambil pasca berumah tangga, pasti ada saja orang-orang yang nyinyir. Tutup saja telinga kalian dari omongan mereka. Toh mulut mereka gak kasih kalian makan. Gak usah pedulikan. Yakinlah pilihan yang kalian pilih adalah pilihan terbaik bagi keluarga. "ANJING" menggonggong, kafilah tetap berlalu. Ya kan? Hehehe.

Wassalamu'alaikum.

You May Also Like

62 komentar

  1. Kalau pengalaman saya, menjadi ibu bekerja di luar itu enak banget (kalau untuk hubungan dengan orang lain selain anak), bahkan hubungan dengan suami pun membaik.

    Suami lebih sayang, mertua baik banget, keluarga mengelu-elukan.
    Hanya anak yang sedih karena ditinggal melulu.

    Jadi IRT, anak bahagia karena saya di rumah terus.
    Tapi sayanya makan hati mulu hiks.

    Suami makin berani bentak-bentak, mertua meremehkan, keluarga besar juga.
    Bahkan, saat ini saya kerja dari rumah, karena nggak kelihatan mereka, saya dipikir cuman nonton drakor saja, huhuhu.

    Sumpah ya, jadi wanita itu dilema banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat ya, Mbak Rey. Aku percaya kok kalau Mbak Rey itu orangnya kuat banget. Tentunya ada alasan yang bikin Mbak Rey memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Dan alasan membuat pilihan yang diambil Mbak Rey merupakan pilihan terbaik untuk keluarga juga.

      Memang jadi wanita itu serba salah. Jadi wanita karir tapi jauh dan gak bisa pantau perkembangan anak namun kalau jadi ibu rumah tangga kebanyakan kasus malah dipandang sebelah mata sama orang sekitar. Jadi ibu rumah tangga dibilang rugi sekolah tinggi-tinggi, eh giliran jadi wanita karir katanya gak sayang keluarga. Di mata orang lain apapun pilihannya, jadi IRT atau wanita karir, pokoknya adaaaaaa aja salahnya..:'(

      Delete
    2. Etapi serius sih, saya sekarang ngerti kesedihan ortu, setelah anak saya sekolah, sumpah ye, anak sekolah itu bikin ngos-ngosan banget.
      Tiba-tiba saya mengerti mengapa semua ortu ingin anaknya bekerja :(

      Delete
    3. Iya kah, Mbak Rey? Mungkin tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan bisa jadi pilihan ya, mumpung aku belum banyak pengeluaran macam-macam untuk anak.πŸ€”

      Delete
    4. Betul, mumpung anak masih kecil, mending paksain nabung deh.
      Kalau saya jujur better nabung sih, di bank syariah, dan ATMnya disimpan hahaha

      Delete
    5. Dari pada nabung di bank dapat bagi hasilnya kecil, mending duit dibelanjakan buat baju saja mbak Rey, terus dikreditkan, untungnya banyak tuh, asal jangan kabur aja yang ngutang hihihi..😁

      Kalo capek dagang, mendingan di simpan saja di bank yang bikin senang yaitu bank Toyib atau bank jali..🀣

      Bang jali, bang jali
      Goyangnya bikin hepi.
      πŸ’ƒπŸ•ΊπŸ’ƒπŸ•Ί

      Delete
    6. @Mbak Rey: Nah aku juga ada kepikiran begitu, Mbak Rey. Hehehe

      @Mas Agus: Lhoooooo, malah goyang.πŸ˜‚
      Kalau aku gak bakat nagih utang, Mas. Salah-salah malah gak tertagih semua. Bukannya jadi untung, malah buntung kalau aku buka usaha kredit. πŸ˜‚

      Delete
    7. Wah gitu ya mbak Roem.

      Menurut penerawangan saya, anda tidak cocok jadi pedagang, cocoknya kerja di air.

      Jadi tukang air galon..😁

      Delete
    8. Boleh lah. Yang penting halal. Hahaha.

      Delete
    9. hahahaha, ide yang menarik!!!
      Betul sekali yak, daripada ditabung, terus besok-besok kita mati, nggak guna juga *loh :D
      hahahaha

      Btw, ngomongin mati, saya jadi ingat nih, kalau seandainya saya mati besok, terus punya investasi yang nggak ketahuan suami atau keluarga bahaya juga ya.

      Juga kalau saya mati besok, jangan lupa ya kasih tahu suami saya buat bayarin perpanjangan domain saya *masih diurus padahal udah waktunya menghadap hahahahahaha

      Delete
  2. Setuju mba.
    Hidup itu pilihan. Kalau sudah memilih jangan pernah menyesali pilhanmu sendiri. Prinsip aku.
    Masalah komentar nyinyir? Aku tipe yang gak pedulian sama apa yang orang fikirkan tentang aku. Aku sendiri gak pedulian juga sama cara orang menjalani kehidupannya. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah bener itu Mbak. Toh mulut nyinyir mereka gak kasih makan kita. πŸ˜‚

      Delete
  3. waaah ini nih yang uda disounding-sounding sebelum aku memutuskan untuk menikah. Memang dilema banget. Tapi pada akhirnya pun harus ada yang dikorbankan. Masing-masing pilihan juga tentu ada kekuranganya. Ya itulah lika liku kehidupan wanita. Semangat menjadi wanita!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pokoknya harus semangat terus. Apapun yang dipilih, insyaallah yang terbaik buat kita.;-)

      Delete
  4. Apapun pilihan, yakin aja itu yg terbaik untuk keluarga. Skrng engga cuma Ibu koq, Bapak juga banyak yg kerja dari rumah. Bikin Home Office...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mbak. Jaman sekarang teknologi semakin canggih, dan sangat memungkinkan orang untuk kerja di rumah. πŸ˜†

      Delete
  5. Aku belum menikah sih mba jadi belum tau keputusan kedepannya gimana semoga yang terbaik dan memang prinsipku dari awal hidup sesuai dengan keinginanku sendiri dan bukan keinginan orang lain. Sekarang udah kebal banget sama nyinyiran orang. Sekarang juga sedang berusaha untuk menghormati setiap pilihan orang lain, karena toh hidup dia dan aku yakin juga dia pasti sudah memikirkan panjang lebar untuk mengambil keputusan tersebut. Jalanih saja hidupmu sendiri tanpa memperdulikan hidup orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Mbak. Kalau kata orang Jawa sih "Urip iku Sawang Sinawang" artinya hidup itu saling memandang. Bisa jadi saat kita lihat hidup orang kok kelihatannya bahagia dan indah, ternyata di dalamnya tidak seindah itu. Atau bisa jadi saat kita lihat hidup orang kok melas dan nelongso, ternyata di balik itu mereka malah bahagia dan bersyukur atas kehidupannya. Jadi yang terbaik adalah jalani hidup sendiri dengan sebaik-baiknya dan tidak lupa menghormati kehidupan orang lain. πŸ˜„

      Delete
  6. Wah aku jadi makin berpikir nih untuk menentukan mau jadi IRT aja atau wanita karir. Jujur, aku udah terbiasa nyari duit hehee jadi belum kebayang kalau harus stay di rumah aja dan hanya mengandalkan uang pemberian suami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun pilihannya baik kok, Mbak. Disesuaikan saja dengan kebutuhan keluarga. Yang penting Mbaknya senang, suami senang, anak-anak senang. Hehehe.

      Delete
    2. Baca malam-malam setengah ngantuk, kaget lihat ada blogger namanya putri Kunti, eh ternyata Kutni..πŸ˜‘

      Efek apa ya..😁

      Delete
  7. iya sih, meskipun jadi ibu rumah tangga. wanita sangat mulia sekali dan lbh repot dari pegawai yang kerja di kantoran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, jangan salah. Ada lho wanita yang menjalankan peran ganda. Kerja di luar iya, pulang kerja harus ngurus rumah. Pokok apapun pekerjaannya baik kok, asal disesuaikan dengan kebutuhan keluarga dan sudah dirundungkan baik tidaknya dengan suami. Hehehe.

      Delete
    2. waduhh superpower banget istrinya.. kalo saya suaminya disuruh istirahat aja hehe.

      Delete
    3. Sip, mas termasuk calon suami idaman.πŸ˜†

      Delete
  8. Mengurus rumah tangga atau wanita karir ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing ya. Apalagi baca komentar mbak Rey, waktu jadi wanita karir suami dan mertua sayang, mungkin karena dapat penghasilan ya. Tapi akibatnya anak jadi kurang terurus.

    Tapi menurutku lebih cocok jadi ibu rumah tangga saja, anak jadi terurus, suami pulang kerja ada yang nyiapin kopi atau teh manis, rumah juga jadi bersih, tidak berantakan.πŸ˜ƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini pertimbangannya sebelas-duabelas sama suamiku nih, Kang. Istri beberes dan ngurusi rumah tangga, suami kerja banting tulang cari nafkah. Dua-duanya sama-sama kerja. Yang satu kerja di dalam rumah yang satunya kerja di luar rumah. Hehehe.

      Delete
    2. Nah, itu juga yang jadi pertimbangan aku mbak. Istri aku ngurus anak dan rumah jadinya suami capek pulang kerja jadi semangat karena ada yang ngurus anak dan pulang udah ada kopi atau teh manis.

      Sebenarnya ada sih bisnis online untuk istri di rumah, misalnya dropship baju atau barang online lain, tapi istri ngga paham. Ya udah aku biarkan saja karena tugas nyari duit itu tugas suami...😁

      Delete
    3. Toh istri walaupun gak kelihatan menghasilkan uang, tapi istri berkontribusi menghemat pengeluaran rumah tangga lho, mas. Coba kalau semua pekerjaan domestik di rumah seperti bersih-bersih rumah, setrika, cuci baju, ngemong anak, masak, jadi guru les pribadi anak pakai jasanya orang luar pasti pengeluaran rumah tangga membludak. Hehehe.πŸ˜‚

      Delete
    4. Betul sekali, tugas istri kalo pakai tenaga IRT lebih mahal ya mbak. Harus lebih sayang istri ya.πŸ˜„

      Dulu waktu belum punya istri aku boros banget soal duit, tiap gajian hobinya jajan makanan atau lain, selain ngasih ortu.

      Alhamdulillah sekarang setelah uang dipegang istri jadi punya rumah sendiri. Motor juga punya biarpun second. Mobil juga sudah ada tapi masih di dealer, belum kuat buat bayar DP dan cicilannya...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    5. wkwkwkwkw, jadi lebih terarah kan ya :D

      Btw villa di puncak udah ada kan :D

      Delete
    6. Iya mbak, jadi duit lebih terarah pengeluaran nya, ngga boros kayak dulu.

      Alhamdulillah villa sudah ada di puncak, tinggal bayar saja kalo mau nginap..πŸ˜‚

      Delete
    7. Wah, hebat mas Agus. Mobil dan villa nya banyak. Kalau aku mobil juga ada, tinggal klik gocar, mobil sudah datang. Hehehe.

      Delete
    8. Wah cocok itu mbak, punya mobil memang buat usaha seperti gocar jadi ada pemasukan, jadi kalo mobil rewel mau ke bengkel ada duit...😊😁😊

      Delete
  9. Begitulah mba, jadi perempuan.. dilematik..
    kalo sudah berumah tangga dan beranak pinak, terkadang merasa galau. disatu sisi ingin terus bareng-bareng anak, tapi disisi lain juga butuh cuan untuk nambah2 penghasilan suami.. :D

    Apapun keputusan yang diambil, yang terpenting sudah melalui diskusi antara suami & istri. jadi sama2 enak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mbak Thya. Yang penting sudah didiskusikan dengan suami, jadi pilihan yang dipilih sudah tentu yang terbaik untuk keluarga.

      Delete

  10. Yaa membaca tulisan diatas memang menjadi IRT banyak keluh kesahnya. Tetapi tak jauh beda juga dengan wanita Karier.

    Semuanya pasti ada hikmahnya. Tinggal bagaimana sang wanita tersebut yang mengambil keputusan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun pilihannya, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Yang terpenting didiskusikan dulu mana yang terbaik untuk keluarga, wanita jadi IRT untuk mengurus rumah tangga dan anak atau jadi wanita karir untuk bantu suami cari nafkah. πŸ˜„

      Delete
    2. Betul, masing-masing pilihan ada kelebihan dan kelemahannya.

      Apapun pilihannya, minumnya teh botol Sosro..😁

      Delete
  11. sempat menjadi wanita karir, lalu setelah menikah dan membesarkan anak rindu kembali bekerja namun melihat realita kehidupan ibu-ibu bekerja ternyata banyak dramanya. salah satunya, harus bangun lebih pagi untuk nyiapin sarapan dan bekal. beda dengan IRT penuh waktu, terkadang ada masa-masanya bisa rebahan sesuka hati setelah semua tugas rumah dan keperluan anak terpenuhi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punya peran ganda sebagai wanita karir dan IRT memang sangat berat. Oleh karena itu aku selalu salut sama wanita yang berani memilih keputusan menjalani peran ganda selain itu sepertinya aku juga gak kuat kalau harus menjalaninya.😊

      Delete
  12. Istri saya lebih memilih jadi IRT setelah menamatkan kuliahnya. Bahkan dengan kesibukan sebagai IRT istri saya jadi jarang ke mol.
    Tapi tagihan belanja onlen terus meningkat #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bwahahahah, sama saja ya bang day.😁

      Ya udah santai aja, yang penting pendapatan lebih banyak daripada tagihan belanja online.πŸ˜ƒ

      Delete
    2. Apakah semua IRT seperti itu? Soalnya aku pun setelah jadi IRT juga rajin banget belanja online. Kasihan ya, para bapak-bapak jaman now, istri kelihatan anteng di rumah ternyata diam-diam menguras dompet dengan rajin belanja online.πŸ˜‚

      Delete
  13. Setuju banget. Semua tergantung pilihannya masing-masing. Jika kita dinyinyirin orang mungkin bisa tutup telinga. Dinyinyirin orang tua, ini hyang harus kita waspada. Beri pengertian, beri penjelasan, dan jangan lupa tetap kirimin uang tiap bulan, hehe. Rajin beliin hadiah, biasanya ortu akan senang XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dinyinyiri orang tua memang bikin sedih. Serasa pilihan hidup yang sudah diambil ini salah. Tapi tipsnya oke lho, Mbak, bisa aku praktekkan supaya orang tua bisa legowo dan memahami pilihan anaknya.πŸ˜„

      Delete
  14. Kalau aku cita cita nya emang pengen jadi wanita karir ya. Gatau kenapa, mungkin karena faktor lingkungan yang mendidik aku kalau mungkin pilihan jadi wanita karir akan lebih baik untuk aku secara pribadi. Aku juga merasa kebutuhan ku sungguh besar. Apalagi aku suka banget sama produk skincare dan makeup. Belum lagi aku suka makan hahaha. Tapi ya aku gatau ke depannya gimana. Yang jelas itu sih cita citaku sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga cita-citanya segera tercapai ya, Mbak Farah.πŸ™

      Delete
  15. jadi, ga apa sih wanita kerja. asal masih bisa nemenin lakinya nanti hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asal jangan LDM ya, Mas. Susah kalau nikah terus jauh-jauhan. Berat di rindu kalo kata Dilan sih. Hehehe.

      Delete
    2. sayapun ga kuat kalo gtu mba :D hehe

      Delete
  16. Indonesia dengan netijennya yang maha benar tidak pernah kehabisan bahan bulian untuk pilihan apapun yang kita ambil. Jadi ya benar kata mbak: "ANJING" menggonggong, kafilah tetap berlalu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia. Kita sebagai manusia hanya diberi dua tangan. Dua tangan tentunya gak cukup untuk menutup mulut-mulut orang yang nyinyir. Tapi dua tangan sudah cukup untuk menutup dua telinga supaya tidak mendengar nada sumbang dari orang-orang nyinyir itu.πŸ˜„

      Delete
  17. Relate banget!
    Saya sebelum menikah bercita-cita untuk tetep berkarir walaupun udah berkeluarga... tapi ditengah jalan langsung banting setir, ingin full jadi IRT aja :) Simple, karena liat suami sehat dan bahagia aja udah berasa kebayar segala lelah setiap harinya #eeaaakkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Mbak Nik. Aku juga dulu gitu. Awalnya punya cita-cita jadi wanita karir. Ternyata setelah menikah malah memutuskan resign buat ikut suami.πŸ˜†

      Delete
  18. Peduli amat kata orang, yg jalani ya kita dan tentunya telah mendapat kesepakatan serta restu suami kok orang yg repot ya, haduuhh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih repot lagi kalau yang nyinyir orang tua atau mertua, mbak. Jadi tambah pusing kepala.πŸ˜‚

      Delete
  19. Gw selalu salut atas pilihan setiap perempuan. Karena gw tau semua yang dipilih berrati harus ada yang dikorbankan. Kaya bini gw, kerja dengan jabatan yang sangat mentereng di sebuah Bank BUMN. Begitu menikah dengan gw, bukannya memilih mutasi ikut suami malah memilih resign dengan alasan ingin mengurus suami. Gw sangat takjub dengan keputusannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku salut banget dengan istrinya mas Riza ini. Karena keputusan untuk menjadi full time IRT bagi para wanita karir adalah keputusan yang sangat berat. Banyak hal yang harus dikorbankan jika mereka mengambil keputusan itu.

      Delete
  20. saya selalu berharap besok bisa jadi wanita karir, tapi pengen juga jadi ibu rumah tangga di rumah. dua-duanya bisa gak ya... hehe..
    di pabrik tempat saya kerja juga banyak wanita yang bekerja demi bantu suaminya. kalau anak sakit mereka pasti bakal cerita soal kecemasaanya, tapi mereka tetep kerja karena mau kasih kehidupan yang baik buat anak. apapun yaang dipilih seorang wanita, asalkan itu tulus maka pasti ada pahalanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa, mbak Astri. Tapi ya berat juga karena harus jadi peran ganda. Mungkin si dilan bahkan gak kuat sama beratnya jadi wanita karir yang Nyambi jadi IRT. Eh, ngomong-ngomong dilan laki ya. Hehehe.

      Bener banget, mbak. Apapun pilihannya kalau dilakukan dengan tulus pasti berpahala.πŸ˜„

      Delete

Komentar akan dimoderasi. Jadi mohon maaf sekali apabila komentar yang tidak sopan, mengandung kata kasar, menyinggung SARA, spam, dan yang berisi link hidup terpaksa tidak saya terbitkan. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.πŸ˜„