Jaga Jarak Gara-Gara Corona

By Roem Widianto - April 12, 2020


Assalamu'alaikum.

Aku tuh merasa agak waspada beberapa minggu belakangan ini. Bukan karena dikejar-kejar dept collector, ya, mengingat aku memang belum punya tanggungan hutang sama sekali. Yang membuatku waspada belakangan ini adalah makhluk penuh toleransi bernama Corona.

Gak salah tuh? Virus berbahaya kok dibilang makhluk penuh toleransi!

Corona memang adalah makhluk yang memiliki rasa toleransi tinggi, Lur. Itu karena dia tidak pernah membeda-bedakan orang yang diserangnya dengan menggunakan SARA. Entah dia kaya, miskin, laki-laki, perempuan, Islam, Hindu, Budha, Katolik, Protestan, Konghucu, Atheis, orang baik-baik, begal, rampok, copet, maling, koruptor, pria hidung belang, bangsawan, rakyat jelata, wakil rakyat, presiden, juru ketik di kantor desa, dan lain sebagainya, semuanya memiliki peluang yang sama untuk menjadi korban dari Corona ini.

Mungkin kalau Corona hanya menyerang para penjahat saja, aku tak perlu waspada dengan ancaman virus ini. Bahkan aku malah bersyukur, karena dunia ini bisa jadi damai dan tentram dengan adanya Corona si Superhero yang melibas semua macam kejahatan yang ada di muka Bumi. Tapi sayangnya tidak begitu, Lur. Corona bukan Superhero, dan ingat satu lagi, Corona ini tidak mengenal SARA. Jadi mau tak mau aku juga harus ikut waspada. Peluangku kena Corona sama saja dengan peluang para pria hidung belang kena Corona. Dan ngomong-ngomong aku gak suka disama-samakan dengan pria hidung belang karena dua alasan. Alasan yang pertama karena aku perempuan, dan alasan yang kedua karena aku bukan orang jelalatan!

Corona benar-benar tak kenal bulu dalam menyerang korbannya. Tapi bukan berarti kita harus pasrah dan menyerah pada virus ini. Masih ada cara supaya kita tidak keok dengan ancaman virus ini. Caranya adalah dengan menjaga jarak. Pemerintah juga sudah menghimbau para masyarakat untuk social/physical distancing atau bisa juga disebut dengan jaga jarak sosial/fisik untuk bisa menekan serangan bertubi-tubi dari makhluk toleran yang jahanam ini. 

Jaga jarak ini memang penting dilakukan karena cara penularan Corona adalah melalui droplet. Droplet itu adalah cairan yang biasa keluar ketika orang sedang batuk atau bersin, termasuk juga hujan lokal yang terjadi ketika kalian-kalian ini sedang bersemangat gosipin tetangga sebelah yang sering pulang malam. Pastinya gak jarang juga kan, kita ngobrol sama orang yang kalau ngomong air liurnya suka gak sengaja muncrat-muncrat gitu. Nah, virus Corona ini bisa ada di air liur yang muncrat itu. Kalau kena air liur yang ada virusnya itu, kita jadi bisa berpotensi tertular penyakit ini. Jadi penting banget kita jaga jarak saat harus berkomunikasi dengan orang lain, paling tidak 2 meter lah.

Kira-kira begitulah alasan mengapa jaga jarak ini penting dilakukan semua orang saat ini. Dan kali ini aku ingin berbagi kisah yang berkaitan dengan jaga jarak gara-gara Corona yang aku rasakan belakangan hari ini.

#Dirumahaja
#Dirumahaja adalah himbauan dari pemerintah yang berisi agar masyarakat bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Alasannya jelas, untuk membatasi kontak langsung antar individu, juga menghimbau masyarakat untuk jaga jarak dari segala kerumunan. Karena di kerumunan, kita tidak tau apakah orang yang berinteraksi dengan kita terpapar oleh Corona atau tidak. Kalau memang ada yang terpapar, maka orang itu bisa membuat orang-orang disekitarnya beresiko tinggi terpapar pula.

Walaupun pemerintah menghimbau #dirumahaja, bukan berarti masyarakat dilarang keluar dari rumah sama sekali. Masyarakat boleh keluar rumah untuk keperluan-keperluan penting tertentu seperti bekerja (untuk pekerja harian dan karyawan yang perusahaan tempatnya bekerja tidak menerapkan kebijakan Work From Home), ke pasar untuk membeli bahan makanan, ataupun ke apotik untuk keperluan kesehatan. Untuk masyarakat yang terpaksa keluar rumah, dihimbau untuk menggunakan masker untuk melindungi diri.

Karena sadar dengan pentingnya jaga jarak, aku juga menerapkan gerakan #dirumahaja ini. Apalagi di desa dekat tempatku tinggal ada seorang PDP yang sudah meninggal dunia. Jadi #dirumahaja menjadi pilihan terbaik bagiku untuk melindungi diri dari paparan Corona. Kalaupun (naudzubillahi min dzalik) aku adalah carrier virus ini, dengan #dirumahaja membuatku tidak menularkan virus ini ke orang lain.

Semenjak tau ada PDP yang meninggal karena dicurigai terkena Corona, aku semakin jarang keluar rumah. Kalaupun keluar, hanya seminggu sekali untuk membeli bahan makanan di pasar. Itupun pagi-pagi sekali. 

Lalu hari Minggu kemarin, ada suatu hal yang membuatku terpaksa keluar rumah. Aku harus ke minimarket terdekat untuk membeli keperluan perempuan yang sialnya habis saat itu dan sekalian membeli persediaan cemilan dan juga mi instan agar aku lebih nyaman terus-terusan di dalam rumah. Saat itu hari sudah mulai gelap, tepatnya sudah ba'da magrib. Pasti jalanan sepi akan kendaraan bermotor, orang-orang semua ada di rumah masing-masing, dan suasana seperti kota mati mengingat sudah ada korban jiwa di dekat daerahku tinggal. Walaupun begitu aku harus keluar sebentar. Maka aku gunakan masker, dan memberanikan diriku keluar malam di masa-masa mencekam ini menggunakan motor. Ngomong-ngomong, baru kali ini lho, aku ke minimarket rasanya seperti akan berjuang di medan perang. Hehehe.

Ternyata perkiraanku salah. Masih banyak kendaraan bermotor yang melintasi jalanan, masih banyak kumpulan ibu-ibu yang ngobrol di pinggir jalan, masih banyak bapak-bapak yang duduk berdempet-dempetan di warung kopi, dan masih banyak orang-orang yang nongkrong di tempat makan dekat tempatku tinggal. Benar-benar tidak ada hawa-hawa mencekamnya. Benar-benar seperti halnya hari-hari sebelum Corona ada. Dan ironisnya, kebanyakan mereka tidak melindungi diri dengan menggunakan masker. Sepertinya jatuhnya korban jiwa masih belum menyadarkan mereka betapa jahanamnya virus bernama Corona ini.

Tidak hanya sampai di situ, Lur. Jalan menuju ke minimarket ada sebuah spot yang lumayan gelap. Jadi spot itu ada di pinggir jalan besar, tapi tidak terkena sinar lampu yang memadai. Mungkin sebenarnya ada lampunya, hanya saja lampunya sedang mati dan perlu diganti. Nah, saat melewati spot itu, tak sengaja aku melihat muda-mudi duduk di atas motor dan sedang ciuman! Dan mereka ini sepertinya masih SMP, soalnya masih imut-imut gitu. Haduuuuh, dulu aku saat SMP masih sibuk main monopoli dan ular tangga. Lha dalah, kids zaman now malah sibuk bercumbu dan memadu kasih!! Astaghfirullah..


Bukannya aku sirik karena masa remajaku ngenes dan monoton tanpa adanya cinta, Lur. Hanya saja kelakuan muda-mudi ini menghianati himbauan dari pemerintah untuk belajar di rumah, menghianati prinsip ketimuran orang Indonesia, dan lagi mengundang mara bahaya mengingat sekarang ini adalah masa pandemi wabah virus berbahaya.

Andaikan salah satu dari mereka adalah carrier Corona, maka melalui ciuman itu yang satunya ikut tertular Corona juga. Lalu saat mereka pulang ke rumah, mereka akan menularkan virus itu ke anggota keluarga di rumah masing-masing. Lalu anggota keluarga yang sudah terpapar virus itu, menularkan Corona di masyarakat yang lebih luas lagi. Lihat, betapa jahanamnya akhlak muda-mudi itu beserta dengan segala kemungkinan buruk yang mengerikan yang mungkin terjadi di masa pandemi ini.

Kalau tadi aku bilang tampangnya imut-imut, setelah melihat polah tingkah mereka berdua ini aku jadi malah merasa amit-amit. Sungguh malu dan jijik aku melihat kegiatan mereka, walaupun aku melihatnya juga secara tidak sengaja. Sudah mengotori mata, menyumbang penularan virus pula. Ingin rasanya aku berhenti di depan mereka dan meludahi mereka yang sedang berciuman. Tapi, gimana kalau ternyata mereka membalas dengan balik meludahiku. Kalau ludah mereka ada Corona, bisa-bisa aku ikut ketularan juga. 

Bosan #Dirumahaja
Sebagai ibu rumah tangga, aktivitas sehari-hariku memang lebih banyak ada di dalam rumah. Gak usah menunggu ada Corona, sebelum ada Corona pun pekerjaanku hanya mengurus rumah dan ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk dimasak. Tapi entah mengapa, dengan adanya Corona dan himbauan #dirumahaja tetap bisa membuatku bosan juga.


Biasanya walaupun kebanyakan waktuku hanya di dalam rumah, sering juga suami mengajakku jalan ke luar saat dia sedang libur. Dia menyebutnya dengan istilah 'kencan'. Walaupun kencan yang dimaksud hanya nongkrong di angkringan pinggir jalan sambil mendengarkan lagu Om Didi Nyempluk yang bikin ambyar itu. Tapi yang penting, kencan sederhana itu sudah berhasil mengusir kejenuhanku. Hehehe.

Selain gak bisa kencan, Corona ini juga merenggut semua angan-angan indah yang sudah aku bangun lainnya. Janjian ketemu teman kuliah gagal gara-gara Corona. Selain itu rencana backpacker-an ke Jogja awal bulan ini juga harus gagal, lagi-lagi karena Corona. Pokok semuanya harus jaga jarak dan lebih baik di rumah aja gara-gara Corona. Kalau Corona ini manusia, mungkin bakal aku gampar juga karena tega-teganya dia menghancurkan semua hari-hari indahku. 

Terancam Gagal Mudik
Wah, sudah April, nih. Beberapa hari lagi mulai bulan puasa. Setelah bulan puasa, masuk Lebaran juga. Gak terasa banget Lebaran sudah dekat. Kalau lebaran, enaknya mudik dan kumpul bareng keluarga tercinta. Sudah kangen banget aku sama orang-orang di kampung halaman.

Tapi sayangnya rasa ingin bertemu keluarga harus aku pendam dulu. Semua ini gara-gara Corona. Apalagi ada korban jiwa di dekat tempatku tinggal. Bikin tambah takut keluar rumah jadinya. Bukan hanya karena takut ketularan. Melainkan juga  takut kalau sebenarnya aku ini adalah carrier, jadi aku takut juga jika menularkan ke banyak orang lainnya. Jadi aku harus pintar-pintar jaga jarak dan #dirumahaja, walaupun sebenarnya tubuhku dalam kondisi baik-baik saja.

Kalau aku mudik, takutnya aku yang punya peluang sebagai carrier ini bisa menularkan virus ini ke anggota keluargaku di kampung halaman. Orangtuaku dan juga mertuaku, semuanya sudah memiliki penyakit bawaan masing-masing. Ayahku dengan diabetesnya, bapak mertua ada sakit jantung, dan ibu juga ibu mertua ada hipertensi pula. Kalau ada virus di tubuhku, pasti bisa membahayakan kesehatan mereka. Jadi mau tak mau aku harus rela gak pulang kampung di lebaran kali ini untuk kebaikan keluargaku di kampung halaman. Duh, aku pengen nangis. 😭 

Jarak Fisik Boleh Jauh, Tapi Hati Tetap Dekat
Sedih banget harus jaga jarak dari orang-orang terutama dari keluarga dan juga teman-teman. Rasa hati ini kangen dan ingin ketemu. Lha dalah Corona datang duluan dan memberi jarak di antara kita. Kejamnya dikau, wahai Corona!!


Walaupun jarak fisik berjauhan, bukan berarti aku gak sayang keluargaku di kampung, bukan berarti aku gak sayang teman-teman dekatku. Malah inilah bukti cintaku kepada mereka. Rela menahan rindu yang amat sangat supaya yang aku sayangi tetap sehat di kampung sana. Tapi tenang. Aku tak sendiri. Di sini ada lagu Om Didi Nyempluk yang setia menemani, dan berhasil membuatku makin ambyar bagaikan sego kucing gak dikareti.

Sudah, sedih terus-terusan tidak membantu sama sekali. Yang diperlukan saat ini adalah komunikasi. Walaupun jarak fisik jauh, tapi kami tetap bisa berkomunikasi dengan baik. Untung sekarang ada sosial media. Aku bisa menghubungi orang-orang terkasih untuk menanyakan kabar. Yang gak kalah penting selain menanyakan kabar adalah saling mengingatkan. "Jangan sering-sering keluar rumah, ya", "Kalau terpaksa harus keluar rumah jangan lupa pakai masker", "Sering-sering cuci tangan pakai sabun", "Dijaga makannya", "Istirahat yang cukup", dan berbagai macam nasehat yang lain. Dengan cara ini semoga orang-orang tersayang mengerti betapa pentingnya menjaga jarak dan menjaga kesehatan untuk terhindar dari Corona. Karena sesungguhnya Corona ini lebih kejam dari congornya tetangga tukang gosip.

Begitulah kira-kira kisah jaga jarak yang aku rasakan gara-gara ada Corona. Bagaimana dengan kisah kalian? 

Semoga kita semua dihindarkan dari segala macam penyakit termasuk juga dari wabah penyakit ini ya. Kuat ya, dulur-dulur, cobaan ini pasti akan berakhir kok.

Wassalamu'alaikum.

  • Share:

You Might Also Like

39 komentar

  1. Sekarang gak hanya jaga jarak mba musti jaga perasaan. Mau bersin n batuk aja takut dituduh corona.

    Sama nih, 3 minggu di rumah saja anak2 dah pada bosan. Tapi mo keluar mereka jg takut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, Bang Day. Kita sekarang hidup di mana kentut lebih berharga daripada bersin.

      Aku pun gitu pengen keluar sebenarnya, tapi takut juga. Setiap kali ke pasar yang seminggu sekali itu adaaaa aja yang bikin parno. Ada ambulan yang jemput pasien, ada karangan bunga ucapan duka cita. Yang paling aman emang di rumah aja. Sampai semuanya membaik. Semoga Corona ini gak lama wabahnya.

      Delete
  2. Sama mbak.. Sy juga stay di rumah aja, malahan udah ckp kama juga ga kluar, aplagi ke pasar udh ga pernah, paling suami aja nyempetin ke minimarket, kyknya si koronah ini emg mahluk tak kasat mata yg hobinya gentayangan... Kita disuruh dirumah aja, dia yg jalan kemana"😭, kluarga ku juga lebaran ga bisa kumpul dulu, tpi pann ada vicall walopun beda rasanya... Walau jarak memisahkan kita, hatiku hanya untukmu awkkkkkk πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah beda ya mbak, kalo aku malah tiap hari masih keluyuran terus, baik ke pasar ataupun ke tempat kuli, soalnya kalo ngga kepasar nanti warung ngga ada makanan. Kalo ngga kuli, nanti bisa marah istri.πŸ˜‚

      Menurutku vicall tetap ngga bisa menggantikan tatap muka, tapi mau gimana lagi ya.πŸ˜‘

      Delete
    2. @Mbak Santuy: Iya, Mbak. Mudik jadi harus ditunda dulu. Takutnya kita sehat tapi ternyata carrier itu, lho, bisa nularin orang-orang tua di rumah.😭

      @mas Agus: gakpapa, mas. Pokok selesai ke pasar atau kerja langsung pulang ke rumah, dan jangan lupa pakai masker terus + jaga kebersihan.

      Delete
    3. Waduh, berarti pulang kerja ngga boleh nongki nongki sama SPG cantik pinggir jalan ya.😱😱😱

      Delete
    4. Jangan, nanti ketahuan istri. *Kaboooor πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

      Delete
  3. Saya juga di rumah aja...
    Udah dari kecil sukanya "stay home', jadi ya gak ada masalah, apa lagi sekarang, seperti yang mbak bilang ada video call, fisik boleh jauh tapi hati tetap dekat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kita hidup saat teknologi sudah canggih ya, Mbak. Teknologi ternyata sangat bermanfaat di saat-saat seperti ini. Kita jadi bisa komunikasi tanpa harus berdekatan seperti jaman dulu. Sekalian menerapkan phisical distancing di masa wabah kyk gini.😁

      Delete
  4. Sama mba, aku jg ga mudik tahun ini. Huhu.. tp gpp lah, semoga outbreak ini cepat berlalu biar keadaan kaya semula lagi.
    Btw mba tinggal di daerah mana? Kok orang2 masih berkumpul2 gt. Hehehe.. klo di sini di Jakarta, rutin ada satpol PP lewat trus bubarin klo ada keramaian gt πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jakarta sudah psbb ya, mbak. Kalau sini belum. Hehehe. Kalau aku di Jawa Timur, Mbak. Moga aja segera ada kebijakan psbb yang ketat macam di Jakarta. Soalnya orang-orang kalau gak diberi peraturan yang ketat masih suka bandel, Mbak πŸ˜‚

      Aamiin. Semoga cepat berlalu ya, Mbak. Bagaimanapun juga masih kangen orang kampung, walaupun tiap hari sudah telponan.

      Delete
  5. Sama, malah saya pinginnya dirumah saja tanpa bekerja dulu... Andai seperti saya ini suruh bekerja dirumah saja, seneng banget rasanya tapi ada mereka disana yang membutuhkanku :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga selalu diberi kesehatan dan keselamatan ya, mas. πŸ™

      Delete
  6. Wah iya kl kororo cuma menginfeksi orang2 jahat di bumi aku juga senang betul, Luurrrr. Tp ya memang nggak pandang bulu. Huhu
    Nggak papa gagal mudik, Luuurrr. Yg pntg semua sehat dlu yaaaa, besok kl kororo udah pergi dr bumi bisa mudik dan kumpul bersama keluarga lg, Lurrr. Lah kenapa ini aku ikutan ke bawa lurrrr lurrrrπŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata 'dulur-dulur' ini menular ya, Mbak Ella. Hehehe.

      Semoga cepat usai ya, Mbak Ella. Supaya kita semua bisa beraktivitas seperti biasa.πŸ˜†

      Delete
  7. Sebetulnya banyak aktivitas yg bisa kita lakukan di rumah dikala kebosanan.

    Ngomong2 di lingkungan tempat saya tinggal juga masih ada yg ngumpul2 alias nongkrong. Padahal udah di pantau scr berkala.

    Sehat selalu ya mba!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah melakukan berbagai macam aktivitas sih, Mbak. Tapi hasrat pengen jalan-jalan tetap sering kali datang. Tapi aku tetap setia di rumah aja kok. Hehehe.πŸ˜‚

      Semoga orang-orang diberi kesadaran tentang pentingnya di rumah aja di tengah-tengah masa sulit ini ya, Mbak. Dan semoga kita semua diberi kesehatan. Aamiin.πŸ™

      Delete
  8. Howaaaa .. reflek meremin mata pas baca ada adegan ciumanπŸ™ˆ.
    Lah, koook .. mereka ngga punya rasa cemas kemungkinan tertular carrier covid-19 atau gimana, seeh πŸ€”??

    Dih, kalo aku ngga bakalan, lagi ada ancaman banget dari virus mematikan begini .. diajak ciuman kayak gitu 😷
    [Laaah ..., Siapa juga yang mau ngajak ciuman aku .. wwkkkk .. ,kok jadi halu tingkat dewaaah ngaco tingkat kahyangan πŸ˜‚πŸ€­]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang mas Himawan, nanti ada kang satria yang mau...πŸ™ˆ

      *Kaboorrrr..πŸƒπŸƒπŸƒ

      Delete
    2. @Mas Himawan: Lha iya, Mas. Aku juga heran sama dedek-dedek gemes itu. Kok bisa-bisanya melakukan hal tak senonoh seperti itu. Gak cuma di tempat umum, tapi juga waktu wabah virus mengerikan merebak.😱

      @mas Agus: kalau mas satria sih sudah punya partnernya yang sah dan halal, masπŸ˜‚

      Delete
  9. Wow, yang dibahas agak lama itu masalah anak abege lagi cipokan ya. Apakah mbak Roem itu tertular virus 90++ dari cerpen kang satria.πŸ™ˆ

    Tenang mbak Titik Sandora, ngga perlu meludahi mereka, tinggal senyumin aja tapi jangan lupa tangan kanan kasih lempar batu terus kabur sekencang-kencangnya.πŸƒπŸƒπŸƒ

    Lagian bahaya juga tuh lihatin yang seperti itu. Aku kasih info aja nih mbak, kapal Titanic itu tenggelam juga gara gara kejadian seperti itu.

    Nah, jadi ceritanya Jack ama Rose itukan lagi senang karena Rose bebas dari Cal. Lalu mereka cipokan gitu di geladak kapal. Nah, petugas kapal Titanic yang harusnya melihat lautan barang kali ada gunung es itu malah sibuk lihatin mereka cipokan, bukannya menjalankan tugasnya.

    Akhirnya kandas tuh Titanic gara-gara ada orang cipokan.😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda lah, mas. Kalau mas satria kan ceritanya fiksi, kalau yang aku alami ini nyata. Shock juga aku harus melihat pemandangan tak senonoh seperti itu.πŸ˜‚

      Ngomong-ngomong, baru tau aku kalau penyebab Titanic tenggelam tuh sebenarnya gara-gara nahkoda nya liat orang cipokan. Bahaya banget ternyata ya. Jadi takut juga kalau di jalan gak sengaja lihat adegan kyk gitu lagi. Ngeri.😱😱😱

      Delete
    2. Iya bahaya dong. Bagaimana kalo karena lihat orang cipokan jadinya Sein kiri belok kanan.😱

      Akhirnya nginap deh di bengkel. Kok di bengkel? Ya karena motornya nabrak trotoar tengah jalan, orangnya cuma lecet doang.😱

      Delete
    3. Kasihan motornya dong, Mas. Wah, kudu fokus lihat jalan nih berarti. Takut kalau di pinggir jalan ada kejadian yang gak enak dilihat.πŸ™ˆ

      Delete
    4. Lha, emang kalo naik motor selama ini fokusnya kemana mbak? Apa ke pakaian atau tas wanita pinggir jalan ya? πŸ™ˆ

      Delete
    5. Ke tulisan diskon yang dipampang di toko-toko pinggir jalan, mas. Maklum, pecinta diskonan.🀣

      Delete
  10. Well, aku tidak begitu betah berdiam di rumah aja. Tapi, bukan berarti aku suka jalan-jalan juga sih.
    So, selama harus di rumah aja, aku lebih banyak beraktivitas yang menyesuaikan passion atau hobby. Kenapa nggak? Ada banyak hal yang bisa aku lakukan kok.
    Ya meski jadi belum bisa ke mana-mana termasuk mudik.

    Sekarang malah asyik jadi relawan juga. :)

    Semangat ya kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat juga ya, Mbak, buat aktivitas jadi relawannya. Semoga semakin banyak orang yang terbantu. Dan semoga sehat selalu ya, Mbak Einid.πŸ˜†

      Delete
  11. Kalo ceritaku dengan maraknya pandemik corona ini sangat mengkhawatirkan. Aku sebelum karantina ditetapkan di wilayah tempat aku merantau. Aku sudah pulang kampung duluan. Orang tua dikampung takut disana kenapa kenapa. Jadi pulang kampung. Tapi dikampung nggak bisa #Dirumahaja melainkan harus jaga toko. Kalo ga jaga toko mau dapat uang dari mana. Aku sudah antisipasi cuci tangan. Jaga jarak sama pembeli. Dan sialnya ada ODP di dekat rumah. Katanya abis pulang dari ijtima di goa kemarin. Kan beritanya ada yang kena corona. Makin takut kan kali aja tuh orang belanja. Tapi kagak ada sih wkwkw. Doain semoga aku selamat dalam bekerja ya dulur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.

      Gakpapa terus kerja, mas. Pokok selalu jaga kebersihan, jaga jarak fisik minimal 2 meter, dan selalu pakai masker. Sehat terus ya. Semangat terus pokoknya ya, Lur. πŸ˜†

      Delete
  12. Mbak roem aku ngguyu loh iki bagian om didi nyempluk hahhahaa
    Etapi dulu pas masih pacaran aka blom ada bocah, karena aku dulu nunggu hamidunnya lama sih, kami sering juga kencan murah kayak mlipir ke bakul dvd pinggir jalan. Klo sekarang uda ga ada sih bakul dvd di tempatku itu sejak banyak situs streaming

    Klo ga ya sami mawon kayak mb roem, nyego kucing di warung hik, sekalian medang jahe susu anget n ngrica rica entog.

    Oiya mb, seriusan itu ada yang tjipokan aka sun sunan di tempat peteng malem malem, anak bocil pula, ckckckkd #apa nda takut digigit nyamuk ya hiyahiyahiya

    ahhahah

    Ehmmm...berbeda dengan tempat mb roem tempatku sudah mulai sepi nyenyet, dah pada ndekem di rumah masing masing kecuali klo mau cari makan buat beberapa minggu, atau yang mendesak lain misal beli obat atau ngantor yang terpaksa kantor atau tempatnya ga kasih work from home, sebab kayaknya juga bentar lagi akan diberlakukan psbb

    Opsi menunda mudik sepertinya kudu digaungkan lebih nih terutama karena biasanya tempat bukmer pakmer agak harus dikasih pengertian lebih jeru apalagi kan kita ini tidak tahu ya, diri kita sendiri sehat atau naudzubilah himindzaliknya carrier tanpa gejala, ya supaya antisipasi aja alias bahasa jawane cepalango mencegah daripada kedadean yang ga diinginkan hiks...

    Jadi sepertinya kami harus memberikan pengertian lebih ke yang di kampuang halaman, mungkin kemungkinan besar ga mudik lebaran. Tapi ntar nunggu semuanya kondusif kembali lah baru cabcus...walaupun ga tau sampai kapan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Nit. Heran aku sama kids jaman now tuh. Kok ya bisa-bisanya masih kecil udah main-main cipokan gitu. Di tempat umum lho, dan lagi masa genting gara-gara ada wabah penyakit pula.😱

      Di sini walaupun sudah lebih sepi daripada sebelumnya, tapi sayangnya masih bisa disebut ramai juga, Mbak. Masih ada yang ngopi di warkop, masih ada yang ngrumpi di pinggir jalan, masih ada yang kumpul di tempat nongkrong. Kabarnya sih gubernur sudah mewanti-wanti supaya daerah tempatku tinggal ini segera psbb karena jumlah positif covid-19 nya terbanyak kedua di Jawa Timur. Ya, semoga segera psbb beneran, supaya gak semakin banyak lagi penularan di sini.

      Semoga wabahnya segera berakhir ya, Mbak Nita. Dan semoga kita semua diberi kesehatan.πŸ™

      Delete
  13. Ya Alloooohhh, dirimu ketularan Mas Agus ya Roem? makanya jadi pelawak sekarang, hahahahahahahah.
    Ngakaaakkkkk!

    Btw ini tema 1M1C ya? sumpah kemaren saya hampir nggak mau nyetor, saking bingung mau nulis apa dengan tema JARAK ini, hampir aja mau tulis pohon Jarak hahaha.

    Soalnya kan pasti nggak jauh-jauh dari corona, sementara jangankan yang baca, sayapun udah bosan rasanya nulis corona (padahal baru nulis 3 tema corona deh) :D

    btwAkan tetapi, dirimu keren banget bisa menulis dengan lain begini, lebih santai dan lebih kerasa maknanya hahaha.

    Dan yang lebih adalah, saya ngakak-ngakak maksimal bacanya :D
    Udah ah, saya mau cari congornya orang tukang gosip, biar coronanya kabur dilawan tukang gosip hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, kenapa saya pula yang disalahin mbak.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
    2. Iya, nih, mas Agus biang keroknya, Mbak Rey. Eh, tapi gak mas Agus doang sih. Karena sudah mulai blogwalking kemana-mana dan ketemu blog-blog yang isinya enak dibaca seperti punya Mas Agus dan Mbak Rey ini. Mungkin kebanyakan blogwalking bisa merubah gaya menulis seseorang. πŸ™ˆ

      Wah, ketahuan ya kalau ini buat setor 1minggu1cerita. Hehehe. Sebenarnya bingung juga mau nulis apa, soalnya tema jarak ini bukan tema yang aku pilih juga. Tapi jiwa kompetitifku bergejolak, bagaimanapun caranya pokok harus bisa setor. Dan karena yang ada di otakku gak jauh-jauh tentang Corona ini, ya akhirnya jadinya begini, Mbak. Hehehe.

      Delete
    3. hahahaha, betul banget, makanya lebih enak tuh BW ke banyak blog, jadi kita nemuin gaya baru, tapi tetep nggak kehilangan ciri khas kita.

      Etapi temanya memang corona banget ini mah hahaha.
      Sayapun bingung mau nulis apa, ujung-ujungnya coronaaaa lagi :D

      Delete
    4. Corona lagi meresahkan banget nih, soalnya, Mbak.πŸ˜‚

      Delete

Komentar akan dimoderasi. Jadi mohon maaf sekali apabila komentar yang tidak sopan, mengandung kata kasar, menyinggung SARA, spam, dan yang berisi link hidup terpaksa tidak saya terbitkan. Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.πŸ˜„